Blog

Manfaatkan Liburan Singkat, Cepat Namun Cermat

Biasanya apa yang kalian lakukan saat libur weekend apalagi ditambah libur nasional setelah/sebelum weekend tiba? Adalah sesuatu banget yah kalau dapat libur 3 hari dalam minggu tertentu. Bosen cuma di rumah aja? Bosen dengan hiruk pikuk ibu kota? Macet, ramai dan sumpek? Rasanya pengen keluar kota mencari kenyaman dan nggak bising tentunya kan?

Sebut saja Jogja yang di kenal sebagai kota yang ramah dan lingkungan yang kondusif untuk berlibur. Mari kita manfaatkan waktu tiga hari kita untuk berlibur di kota pelajar dan di kenal murah karena kuliner dan tempat wisatanya.

Buat yang benar-benar niat pergi ke Jogja dengan budget rendah kalian harus booking tiket tiga bulan sebelum hari H lumayan dapat tiket murah lho Cuma Rp.74.000. Nah disamping itu jika kalian juga memang mengharuskan niat ke Jogja range harga sekitar Rp.74.000-300.000 sekali jalan. So, tentukan jadwal keberangkatanmu agar liburan di sana dapat dimanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan hingga pulang ke Jakarta juga tidak terlalu mepet.

Sebelumnya gua booking tiket dua minggu sebelum hari H, hmm harganya sih lumayan ya Rp.150.000 dan tiket pulang Rp.215.000 dengan harga segitu untuk menghilangkan penat keluar dari ibukota worth it lah pastinya. Fyi, tiket pulang juga ada harga Rp. 74.000 lho mungkin karena waktunya gak tepat so I lost that moment. Dengan perjalanan sekitar 8 jam lebih menuju Jogja dengan jadwal keberangkatan di pagi hari pukul 06.55-15.00 dan jadwal kepulangan sekitar 18.55-03.30, sekiranya butuh waktu 1 hari 3 jam untuk menikmati kota Yogyakarta. Mau tahu tempat mana aja yang akan dikunjungi? Yuk mampir.

Jam 3 sore gua sudah sampai di Stasiun Lempuyangan langsung gua call temen Jogja disana yang sebelumnya emang kita udah janjian juga buat temenin jalan-jalan di kota Jogja. Lapar, isi perut dulu di sekitar pemukiman anak kos dekat kampus Veteran yang murah meriah dan kita bisa ambil sesuka hati dan sebutin apa aja yang kita makan di kasir tinggal bayar deh, berkisar Rp. 7.000-15.000 bisa makan puas. Rehat sejenak di homestay yang baru aja gua pesen di kereta harganya Rp.200.000 di Malioboro fasilitasnya bagus kok dan include breakfast juga. Bersih–bersih, dandan yang cantik untuk bersiap menikmati indahnya kota Jogja di malam hari enggak lupa untuk mencicipi angkringan yang murah di sekitar sini sekedar saran kalian harus liat dulu ya daftar harganya gak mau kan dapet harga yang fantastis seperti beberapa waktu yang lalu sempat viral di media sosial. Udah jalan-jalannya, isi perut dan belanja, tinggal rehat dan bersiap untuk besoknya.

Keesokan harinya, setelah breakfast gua dan temen gua di Jogja berangkat menelusuri candi-candi di sekitar sana, Candi Prambanan dan Candi Sewu yang lokasinya berdekatan. Candi Prambanan yang menghadap ke selatan sedangkan Candi Sewu menghadap ke Timur, selatan barat dan utara tetapi kawasan yang di buka untuk pengunjung yaitu pintu selatan bersamaan dengan pintu masuk Candi Prambanan. Untuk HTMnya 40.000 untuk umum dan 35.000 untuk pelajar, wah disini ternyata kartu pelajar masih berlaku yah untung gua masih mahasiswa walau tingkat akhir seenggaknya kartu mahasiswa masih berlaku hehe. Di sini juga menawarkan paket untuk Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko yaitu 75.000 (htm ke Candi Ratu Boko juga 40.000). sedangkan Candi Sewu hanya 8.000 tapi tetap masuk melalui Candi Prambanan jadi total memasuki Candi Prambannan dan Sewu 48.000. Lumayan juga harga tiket masuknya, bersama temen gua dari Jogja kita dapet ide bisa masuk Candi Sewu dengan alasan survey tempat untuk acara khusus di candi tersebut.

Dengan penjelasan panjang lebar mengenai prosedur dan tata cara menyelenggaraan dan bermodal kartu mahasiswa alhasil kita bisa masuk ke Candi Sewu. Sebentar menelusuri candi dan foto-foto sekeliling akhirnya kita bisa menikmati indahnya Candi Sewu secara gratis.

Sudah menikmati keindahan Candi Prambanan dan Candi Sewu, lanjut lagi ke Dlingo yaitu ke Hutan Pinus Tengger yang fotonya ngehits banget kalo malem hari lho, karena kita datangnya siang hari gak perlu ngantri tapi sayang panas euy. Di sini tidak dikenakan tiket masuk hanya bayar uang parkir Rp.3.000 dan bayar di tempat seiklasnya aja. Adem banget duduk di bawah pohon yang lebat ya.

Panas-panas gini mau coba main air biar seger, masih di daerah Dlingo yaitu di Air Terjun Lido, jaraknya sekitar setengah jam dari Hutan Pinus Tengger. Sayangnya sampai sana air terjunnya kering, air mengalir tidak terlalu deras, namun airnya cukup segar untuk dinikmati dengan warna kebiruan yang khas. Di tempat ini pun tidak dikenakan tiket masuk pula jadi hanya membayar uang parkir Rp.2.000 saja.

Menjelang sore kita mampir lagi ke Hutan Pinus Manguan bersantai kurang lebih sama halnya dengan Hutan Pinus Tengger jarak mereka pun berdekatan, di kawasan ini pula banyak yang menawarkan keindahan hutan pinusnya dan rumah pohon yang di rangkai indah menarik untuk di foto.

Sudah sore, khawatir ketinggalan kereta kami bergegas menuju homestay untuk siap- siap kembali ke Jakarta. Sekitar jam 4 kami telah sampai mandi dan bergegas pulang menuju Stasiun Lempuyangan. Liburan yang singkat namun cukup menikmati waktu luang di hari libur dan tanggal ke jepit.

Memang enggak harus Jogja, masih banyak tempat-tempat lain yang ramah lingkungan seperti Purwakarta, Wonosobo, Cilacap, Bandung dan kota-kota lainnya tinggal memilah tujuan mana yang pas dengan waktu yang singkat namun bermakna terlebih bisa dinikmati di waktu weekend.

Iklan

Pengorbanan Guru Pelosok

1526219175577

Mengabdi ke pelosok negeri

Mengarungi alam pesona bahari

Kami siap untuk mengajari

Walau bangun dini hari

 

Perjalanan jauh dari pusat kota

Infrastruktur hanya andaikata

Walau sudah menjadi buah berita

Tapi menimba ilmu saja menderita?

 

Terluar, terdepan dan tertinggal

Walau tinggal dari pohon cengal

Atau sifat mereka yang bengal

Bukan berarti mereka telah gagal

 

Cerita tentang sekolah rubuh

Sampan mengayuh pakaian lusuh

Jalan terjal tetap ditempuh

Dimanakah hati yang luluh?

 

‘Capek’ sudah lama mereka lupakan

Jarak yang jauh mereka hiraukan

Demi ilmu yang mereka perjuangkan

Pengorbanan mereka tak terbayangkan

 

Surya terik menembus lubang atap

Panas, berkeringat dan pengap

Tatap masa depan dengan penuh harap

Ku jalani ini dengan bertahap

 

Sering kali aku berfikir

Mengajar merasai pahit getir

Dalam hati aku mengukir

Sambil berdoa air mata mengalir

 

Persoalan pendidikan kurang berkualitas

Fasilitas tak pantas

Aktivitas belajar sangat terbatas

Pengajar dituntut untuk loyalitas

 

Ambisi memajukan pendidikan

Masa depan mereka perlu dipertimbangkan

Meski tinggal diperbatasan

Kebodohan harus diberantaskan

 

Maju bersama mencerdaskan Indonesia

Bukan pengapdian sia-sia

Memberantas kaum akatalepsia dan aleksia

Semua butuh pengadaptasia

 

Merekapun pantas mendapat edukasi

Walau wilayah mereka kian terisolasi

Negara harus mengevaluasi

Agar kemajuan bangsa teratasi

 

Menggantungkan harapan dan cita

Semangat mereka adalah sukaria

Nasionalisme adalah kriteria

Guru merupakan profesi mulia

Skripsi gak susah, Jalanin saja

PicsArt_05-06-08.23.46

“Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana”

Begitulah bunyi sangat amat berfaedah dari sebuah kata “skripsi” terletak di laman cover depan bukunya. Bagi sebagian mahasiswa skripsi adalah momok yang menakutkan karena gelar ‘mahasiswa abadi’ bisa saja selalu menghantui setiap mahasiswa. Tapi kita gak akan bahas kearah sana, mari kita bahas prosesnya saja. Perlahan namun pasti kaya dapetin hati si dia.

Tema skripsiku tentang ‘anggrek’ namun hanya pembahasan inventori saja dan lokasinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Kenapa anggrek, entah kenapa itu adalah ide pertama yang muncul dan kenapa mesti di TNGHS ? kenapa gak di Pesona Anggrek TMII? Atau di Kebun Raya Bogor? Jawabannya karena mau sambil jalan-jalan, hehe. Giliran dosen pembimbing sudah suruh penelitian bingung mau ajak siapa? naik apa? di tambah dengan perjalanan cukup jauh, kondisi medan dari Citalahab-Cikaniki kerikil dan bebatuan, siapa yang mau?

Misi Pertama
Sambil berpikir santai di sebuah cafe dekat rumah dengan seruput kopi hitam dan french fries mencari temen di daerah Bogor, nah iya dapet satu. Andri. Kenal Andri itu karena pernah nanjak bareng ke Gunung Salak lewat jalur Pasir Reungit, berawal kenal dari temen dan kebetuan dia juga ikut naik gunung, jadi kita kenal di gunung deh.

“Ndri, tahu tempat penangkaran anggrek di kaki Gunung Salak gak? Atau lo tahu daerah Citorek/ Lebaktugu/ Cinakem/ Cibedug/ Ciawitali? ” tanyaku antusias lewat Whats App.

“Kalo yang lo maksud gua gak tau Ris, tapi ada penangkaran anggrek di Pondok Bitung daerah Citiis yang kemarin kita naik grab kelewatan tempatnya” balas Andri sekaligus mendapat informasi tambahan.

Flashback sebelum nanjak ke Gunung Salak, sambil mikir keras tempat yang dia maksud karena sepanjang perjalanan ke Pasir Reungit kayanya tidur mulu jadi berasa cepet aja sampainya.

“Lupa Ndri” sambil cengengesan bales whats app padahal dia mana tau ekspresi mukaku lagi ngapain.

“Lo mau beli anggrek?” tanya Andri

“Enggak gua mau liat penangkaran anggrek aja buat skripsi gua Ndri. Libur kapan libur?” jelasku sekalian basa-basi.

“Minggu Ris” jawab dari seberang

“Temenin gua yuk Ndri”

Singkat cerita, akhirnya Andri mau temenin bersama temen sekantor Andri, Pak Suad ke tempat penangkaran anggrek di daerah Ciomas. Kira-kira butuh 30 menit buat sampai ke kediaman Pak Suad dari Stasiun Bogor. Dulu masa kejayaannya zaman Soeharto, di perkebunan beliau banyak penangkaran atau budidaya anggrek, peternakan sapi, dan ada villanya juga.

Menempuh perjalanan motor selama 30 menit sampai ke Ciomas and you know that, sampai disana penangkaran anggrek udah berubah jadi hutan, oh my God. Hanya tinggal peternakan sapi yang tinggal beberapa terlihat sapi-sapinya, dan villa tampak tua di lihat dari kejauhan lumut yang menjamur kearah tembok.
Seketika mukaku langsung memerah nampak kecewa yang tadinya berangkat dengan antusias tiba-tiba berubah seketika. Berangkat dengan penuh harap membahawa bahan untuk dijadikan skripsi tapi malah zonk. Misi di Ciomas gagal.

“Jadi gimana nih Ris? Mau cari anggrek dimana?” tanya Andri

“Hmm dimana yaa?” sambil mikir
Lalu aku bertanya ke Pak Suad “Disini gak ada kebun anggrek lagi Pak? Dimana aja asal ada tumbuhan anggrek liarnya?”

“Aduh saya kurang tau neng, yang saya tau cuma ini doang” jelas Pak Badrun

“Kebun Raya Bogor aja Ris, Kayanya sih ada anggrek?” ajak Andri

“Boleh deh Ndri” sambil melanjutkan perjalanan aku berfikir ‘berarti aku harus berganti judul dong karena lokasinya udah beda yang harusnya di sekitar gunung Salak lah ini malah di Kebun Raya Bogor’ aduh repot lagi urusanya sama dosen pembimbing dan dosen prodi. Biarin deh gak punya pilihan lagi.

Lalu aku melanjutkan perjalanaan menuju ke Kebun Raya Bogor kebetulan searah dengan jalan pulang ke Stasiun Bogor. Butuh 30 menit untuk sampai kesana karena jalanan Bogor padat diramaikan oleh angkot-angkot. Sampai disana aku menghampiri bagian informasinya, hari itu sudah jam 4 sore kayanya hampir jam terakhir mereka kerja deh.

“Permisi Mbak, saya ingin melalukan penelitian tentang anggrek. Bagaimana prosedurnya ya?” tanyaku sambil permisi.
“Bawa surat pengantar kampus aja Mbak” jelas dari Mbak bagian informasi.

“Butuh proses berapa lama Mbak?” tanyaku lagi.

“Gak sampai seminggu mungkin 4 hari. Nanti datangnya sebelum jam 4 yah Mbak karena office-nya tutup jam 4.15 kalau Kebun Rayanya jam 5 sore” lanjutnya.

“Baiklah. Terimakasih Mbak” sambil permisi.

“Sama-sama” tutupnya dengan ramah
Sambil berjalan kearah pulang Andri tanya “Yaudah Ris mau kemana lagi?”
“Udah Ndri, kita cobain kuliner bogor aja. Sayangkan udah main jauh-jauh kesini gak cicipin kulinernya”

“Yaudah sok atuh” ajak Andri
Akhirnya sebelum pulang kami icip-icip kuliner disana dan akhirnya pulang ke stasiun ke Jakarta. Misi di Kebun Raya Bogor hanya berbuah informasi saja.

Misi Kedua
Aku coba lagi buat mencari siapa temen yang bisa diajak ngebolang, dengan menggunakan jurus ‘sok akrab’ ke temen instagram, temen naik gunung, ampe bikin instastory. Ada sih beberapa temen japri tetapi mereka menyangka bahwa aku ingin nanjak Gunung Salak padahal mah makasih deh, aku sudah pernah dan untuk nanjak kedua kalinya harus mikir ekstra berpangkat dulu.

Ringkot. Temen nanjak gunung dulu pernah bareng waktu ke Merbabu jalur Selo tanpa pikir panjang langsung aku ajak ke TNGHS. Dia sih ok aja, nah ini kesempatan banget tapi di samping itu juga aku masih mau usaha buat cari barengan siapa tau dia mendadak cancel. Sembari cari temen di kontak handphone, cari..cari..cari.. akhirnya dapet Mbak Maya. Dia anak touring, doyang ngebolang kemana-mana pake Moge alias motor gede gitu. Dulu pernah sekantor bareng tapi sekarang masing-masing sudah memilih jalur yang berbeda but we always keep contact.

“Mbak May pernah touring kearah Gunung Salak?” tanyaku basa-basi.

“Pernah tapi hanya lewat Cidahu aja” jawab Mbak May.

“Jalanannya hancur kah?” basa-basi kedua.

“Udah lama banget kesana terakhir sih hancur” jelasnya.

“Gua butuh orang yang bisa diajak kesana nih masalahnya susah banget ngelobi-nya. Gua kesana cuma mau observasi aja tentang anggrek buat skripsi gua nanti ke arah Leuwiliang kesanaan lagi” basa-basi ketiga.

“ Leuwiliang arah Jasinga ya? Kalo mau di antar hayuk.” Seketika mataku berbinar mendengar ucapan dari Mbak Maya.

“Nah yang kaya gini nih yang jarang-jarang” mencoba mengungkapkan.

“Maksudnya ris?” tanya Mbak May heran.

“Jarang-jarang ada yang tau inti dari percakapan gua” terkadang to the point itu jauh lebih baik.

IMG20180407152800

Foto di Kebun Teh Nirmala, Citalahab

Singkat cerita, akhirnya kita janjian hari Sabtu pagi berangkat dan ketemuan di Naga Swalayan di Ciracas, Jalan Raya Bogor. Ladies rider satu ini selalu membawa motor gedenya kemanapun walau jarak yang cukup jauh, yaialah anak touring. Kami jalan kearah Bogor melewati Leuwiliang arah jalur ke kampus IPB lanjut ke arah kecamatan Nanggung sampai ujung Desa Curug Bitung lalu masuk ke Desa Wisata Malasari (Kampung Wisata Halimun Ciwalen) di lanjutkan kembali sepanjanjang perjalanan menusuri Kebun Teh Nirmala Agung masuk ke Kampung Citalahab memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan kondisi jalan bekas cor jalan tidak rata sepanjang 1 km, di lanjutkan kondisi jalan kerikil pasir dan tanah, dan sampai kondisi jalan bebatuan yang tertanam. Waktu tempuh dari Jakarta sampai Cikaniki kurang lebih 6 jam itu juga termasuk kendala di jalan karena gir motor tidak mampu diteruskan melanjutkan perjalanan akhirya sekitar 1,5-2 jam mengalami perbaikan motor. Sungguh perjalanan yang amat sangat melelahkan di tambah lagi dengan kondisi bebatuan di Cikaniki total sudah tiga kali terjatuh dari motor dan entah beraapa kali tergelincir disebabkan kondisi jalan licin dan batu-batuan yang tajam, beruntung kami tidak mengalami luka yang serius.

IMG20180407163656

Cikaniki Reasearch Station

Sampailah juga di lokasi observasi, sayangnya disana terdapat anggrek tetapi tidak berbunga. Tadinya mau jalan ke arah hutan tapi karena hari semakin gelap dan cuaca hujan ringan, kami mengurung niat itu. Beruntung sekali dengan guide kami Bapak Apud kami diberikan gambaran sedikit mengenai anggrek hutan di kaki gunung Salak, salah satunya adalah anggrek yang bernama latin Bulbophyllum paduii dengan habitatnya di batang pohon. Bunga yang memiliki ciri khas kelopak runcing dan memanjang dengan warna yang cerah seperti ungu, kemerahan, dan kuning. Anggrek ini jarang sekali temui di perkotaan mungkin karena hanya dapat tumbuh di daerah sejuk dengan daerah yang lembab.

IMG-20180401-WA0007

Bulbophyllum paduii

Akhirnya aku dapat anggrek liar sebagai bahan skripsi tapi entah kenapa kurang puas ya, karena di saat observasi belum sempet wawancara pengunjung disana atau guide lainnya. Pak Apud ingin mengajak lagi datang ke tempat ini tapi entah kenapa waktunya belum ketemu karena bersamaan dengan waktu kerja dan entah siapa lagi yang harus aku ajak. Dan aku memutuskan untuk mengerjakan skripsi dengan bahan yang sudah ada masalah wawancara masih ada waktu. Semoga untuk observasi selanjutnya dapat dipermudahkan.

Bersambung….

Novtalia

Warisan Leluhur Dari Suku Kanekes

IMG20180217132717Patung Selamat Datang Suku Kanekes (Suku Baduy)

Apa yang menjadi pemikiran kalian jika mendengar suku Kanekes atau biasa disebut suku Baduy? Suatu kelompok kehidupan yang jauh dari kata  modernisasi, hidup bersama alam di tengah hutan dan dibawah aturan adat yang ketat atau bahkan sebagian dari kalian beranggapan orang-orang yang menyeramkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suku Baduy merupakan sekelompok etnis Sunda yang hidupnya tergantung pada alam terletak  di sekitar Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Menurut kepercayaan suku Kanekes, masyarakat disana memiliki tugas untuk menjaga keharmonisan atau keseimbangan alam setempat hal ini disebut juga kepercayaan yang memuja nenek moyang sebagai bentuk rasa penghormatan mereka. Kepercayaan ini disebut  dengan Sunda Wiwitan. Suatu budaya yang tidak dapat dipisahkan oleh masyarakat setempat untuk  menjaga kelestarian alam sampai mampu membangun hubungan dengan alam.

Suku Baduy di bagi 2 kelompok yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Perbedaannya adalah cukup sederhana dilihat dari segi pakaian dengan warna berbeda dan menjalankan aturan adat istiadat setempat. Masyarakat di Baduy Dalam sangat memegang teguh dan menjalankan aturan adat dari Puun yakni, tidak menggunakan alat teknologi sama sekali bahkan pencahayaaan di waktu malam datang dan bahan kimia pada kehidupan sehari-hari. Pakaian untuk keseharian  yang biasa digunakan memiliki ciri balutan kain dominan warna putih yang mempunyai makna kesucian, tetapi terkadang celananya saja yang berwarna hitam ataupun biru tua. Sedangkan perbedaan dari kelompok Baduy Luar, masyarakat disana telah terkontaminasi dengan budaya luar atau pengunjung datang untuk berwisata sehingga penggunaan bahan kimia sudah boleh diperkenankan dan bahkan penggunaan elektronik. Selain itu, dalam menggunakan pakaian sehari-hari serba hitam atau warna biru tua. Masyarakat Baduy Luar sendiri memiliki fungsi sebagai penyaring masuknya budaya luar untuk dapat mengenal suku Baduy Dalam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mata pencaharian utama suku Baduy  adalah bertani karena dengan diperkaya alam yang berlimpah dan tanah yang subur membuat keseharian mereka untuk bercocok tanam. Biasanya komoditas yang dihasilkan berupa umbi-umbian, buah-buahan, kopi sehingga tidak sulit untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari, selain itu mereka menanam padi ladang tetapi tidak boleh di jual.

Mungkin sebagian dari kalian ada yang bertanya mengapa padi disana tidak boleh dijual? Hukum adat  melarang mereka menjual hasil panen padi ladang karena agar masyarakat tidak kesusahan pada masa sulit datang. Uniknya suku Baduy terus mempertahankan kemandirian pangan dengan cara bercocok taman padi ladang yang dilakukan setiap setahun sekali dengan masa panen enam bulan.

Produksi pangan disana terbilang berkecukupan karena sebagian gabah mereka disimpan di lumbung pangan (rumah leuit).Penyimpanan gabah itu untuk mempertahankan ketahanan pangan bagi warganya tanpa bahan pengawet.

sized_IMG_9762

Mengenai pembangunan rumah adat,  terbuat dari kayu dan bambu harus melihat dari segi kelestarian alam. Ketika struktur tanah yang miring tidak boleh digali atau diratakan demi menjaga alam yang telah memberi mereka kehidupan. Lalu bagaimana teknik membangun rumah? nah,cara mengakalinya dengan cara membuat kayu yang lebih panjang dan pendek agar rumah panggung tetap datar hingga siap dihuni.  Bagian atap terbuat dari serat ijuk atau daun kelapa digunakan sebagai pelindung dari terik matahari dan hujan, dan semua lantai di lapisi anyaman bambu.

Rumah adat dibagi tiga ruangan yaitu bagian depan, ruang tengah dan ruang bagian belakang. Bagian depan biasa digunakan untuk penerima tamu dan tempat menenun bagi kaum perempuan, ruang rengah digunakan untuk berkumpul keluarga dan tempat beristirahat dan ruang belakang digunakan untuk dapur dan tempat menyimpan hasil panen lainnya. Arah rumah suku Baduy sendiri menghadap utara dan selatan saja hal ini dimaksud agar banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan.

PANO_20180218_091902

Bagi pengunjung yang ingin datang ke suku Baduy Luar sangat mudah dan terjangkau, bisa juga mengunjungi Baduy Dalam tetapi waktu tempuh cukup jauh sekitar 3 jam dari Baduy Luar dan di Baduy dalam pengunjung tidak diperbolehkan menginap khawatir akan mempengaruhi warga setempat. Range  harga Rp.150.000-250.000 tegantung dari meeting poin dimana Kalian dapat menggunakan transportasi  Computer Line arah Rangkas Bitung. Selanjutnya dari terminal Rangkas Bitung menggunakan mobil elf arah Ciboleger. Penting untuk diketahui batas Elf menuju ke Ciboleger, Ciboleger- Rangkas Bitung sampe jam satu siang, kecuali kalau kalian bisa memesan sewa elf menuju kesana bebas akan mengantar kalian sesuai waktu yang ditentukan. Harga tiket masuk Baduy Luar cukup mengeluarkan uang seiklasnya karena tidak dipatok harga jaadi saya menbayar sebesar Rp. 30.000.

Sama halnya dengan penginapan dan guide maupun jasa porter mereka juga tidak mematok harga khusus. Untuk penginapan biasanya Rp.200.000-300.000, guide berkisar Rp. 100.000, sedangkan jasa porter (angkut barang) sebesar Rp.25.000.

Untuk makan biasanya sudah disediakan oleh penginapan tetapi dengan lauk seadanya yang dimana hasil pertanian mereka, seperti nasi, ikan asin, tahu, tempe, sambel, sayur hingga buah yang disuguhkan saat panen contohnya duku, manggis, hingga durian. Biaya yang dikeluarkan berkisar Rp. 15.000/orang.

Sedikit ulasan dari suku Baduy, tertarik mengunjungi suku Baduy?

 

 

Mencoba Kegiatan Rappelling Dengan Menuruni Tebing Dengan Tali

IMG20171203105522.jpgTeknik Rappelling

Pernahkah kamu mencoba olahraga rappelling? Jenis olahraga yaitu dengan  teknik meluncur kebawah menggunakan tali tambang  cukup memicu keberanian dirimu. Dalam olahraga jenis ini pastinya  menggunakan alat standar keamanan seperti tali karmantel. harness, helm, carabiner, figure 8 dan juga alat keselamatan lainya.

Bagaimana aturan dalam olahraga rappelling? Pertama, dengan memposisikan diri condong seperti gerakan kuda-kuda, tangan kiri memegang tali bagian depan dan  tangan kanan memegang tali  bagian belakang sebelah pinggang, tangan kanan berguna sebagai alat kemudi. Diusahakan mengurangi benturan antara badan dengan tebing dan juga gesekan badan dengan tali. Kedua, lakukan menuruni tebing dengan cara lompat perlahan, posisi kaki tetap lurus ketika melompat dan tangan kanan harus sigap karena sebagai kendali. Tak lupa selalu melakukan pengamatan  dan memperhatikan lintasan tali yang ada sampai ke ujung bawah. Saran gunakanlah  pakaian yang tidak mengganggu saat rappelling.

 

IMG20171203143246Lembah Pelangi

DSCN9441

Berada di Desa Cimanggu 1, Kampung Jatake, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang menyediakan lokasi rappeling. Terdapat tiga curug di lokasi ini tetapi yang paling diminati adalah Lembah Pelangi. Tinggi curug ini sekitar 20 meter dengan kemiringan 750 maka dari itu cukup cocok untuk pemula yang ingin mencoba rappelling. Berapa harga kegiatan ini? dengan membayar Rp. 70.000 pengunjung dapat  merasakan sensasi rappelling ini, dan tahukah kamu pemandu juga tidak membatasi berapa kali kita ingin mencoba.

Untuk mencapai lokasi ini agak sedikit rumit yaitu dengan  menaiki angkutan transportasi umum jurusan Leuwiliang sampai di Kecamatan Ciampea selanjutnya turun di daerah Leuweung Kolot, dari situ menaiki angkutan lagi  sampai melewati Gardu Seri kemudian dilanjutkan kembali  berjalan kaki sekitar 1 km agar sampe curug.

Kami peserta Backpacker Jakarta berangkat kesana dengan jumlah cukup banyak yaitu sekitar 40 orang dengan meeting poin di Stasiun Bogor. Sekitar jam 08:00 WIB kami berangkat dari Stasiun Bogor dengan menyewa angkutan umum sebanyak 4 mobil, waktu di tempuh kurang lebih 1,5- 2  jam untuk sampai curug.

IMG20171203113643Curug Jatake

Memiliki ketinggian sekitar 60 meter dijadikan sebagai curug utama sayangnya terdapat banyak sampah plastik yang tersangkut di bebatuan membuat curug ini tampak kumuh. Debit aliran air cukup deras dan warna air cukup keruh kecoklatan sehingga lokasi ini hanya bisa dinikmati dari jauh saja dan tidak dijadikan lokasi rappelling.

Masih ada lokasi curug satu lagi dekat Lembah Pelangi, memiliki tertinggian sekitar 25 meter dan kemiringan 900. Curug tersebut juga hanya bisa dinikmati saja dan tidak cocok untuk kegiatan rappelling karena kemiringannya yang curam.

Fasilitas disini juga cukup lengkap namun sederhana, terdapat parkiran luas, warung, gazebo, toilet/ tempat bilas, dan  musolah.

Nah, itu dia sedikit explore Kampung Jatake yang memiliki tiga curug sekaligus di Kawasan Bogor. Tertarik mengunjungi lokasi tersebut? ingin mencoba olahraga rappelling? Sekedar saran jika ingin datang kesana dengan angkutan umum rajin-rajin menanyakan arah jalan biar gak kesasar dan datanglah dengan jumlah cukup banyak agar patungannya lebih murah, hihihi. Selamat mencoba gaes.

Gagal Capai Puncak Sumbing

IMG20170326055712

Puisiku

Panggilan Gunung Sumbing berdering

Setapak demi setapak saling beriring

Menyenangkan berjalan sambil sharing

Menjaga stamina sangatlah penting

 

Satu tekat menggapai puncak

Tag lokasi tak terlacak

Guyonan teman membuat kocak

Sambil menari Tari Kecak

 

Mulai melangkah dari jalur Garung

Meski makin cepat detak jantung

Beban keril akan tetap ku tanggung

Sejenak menarik nafas dan bersenandung

 

Pos satu bernama Malim

Jauh dekat seperti antonim

Prepare untuk perubahan iklim

Asal tidak celana denim

 

Tiga jam sampai Gatakan

Jalan terjal cukup mengajarkan

Memantapkan langkah setiap pijakan

Semangat kawan sebagai bujukan

 

Garung lama dan baru bertemu Pestan

Tiga puluh menit waktu pembulatan

Langkah semakin cekatan

Seperti tak sabar menunggu perhelatan

 

Jalan ekstrim menuju Watu Kotak

Pijakan batu bergejolak buat gertak

Dari sini Sindoro memancarkan kontak

Panorama terjadi sontak

 

Kecuraman memperkenalkan Puncak Buntu

Merapi, Merbabu dan Lawu nampak bersekutu

Mustahil sampai sini tanpa pangestu

Cuaca juga faktor penentu

 

Pos tiga tempat kami bersantai

Kawan bangun tenda kian pandai

Santapan telah selesai

Semoga malam ini cepat usai

 

Pagi ini terasa mengganjal

Paha betis terasa pegal

Headlamp ditenda kutanggalkan

Tumpuan  selalu gagal

 

Ketika langit mulai kelabu

Rintikan membasah daun semambu

Teriakan angin limbubu

Ku rindu sentuhan kalbu

 

Awan negatif  tubruk membahana

Halilintar datang tanpa terencana

Dalam tenda seperti karantina

Urungku keluar hanya darsana

 

Acap kali gunung jumpa badai

Angin rebut pandai berpiawai

Daun rontok cerai-berai

Porandakan tenda goyangan barongsai

 

Malapetaka bagi setiap pendaki

Ganasnya petir buat teka teki

Keangkuhan siap mencaci-maki

Siapa yang dapat melunaki?

 

Fajar datang sehangat kasih ibu

Menuruni gunung dengan langkah seribu

Pulang dengan cerita menggebu-gebu

Tinggal di kota penuh debu

 

Waktu berjalan semakin limit

Selamat tinggal pertanda pamit

Rasa meninggalkan jadi rumit

Seperti negara api meluncurkan dinamit

 

Sampai di basecamp diam termenung

Menunggu bus AKAP langsung

Namun bus terakhir kembali urung

Hujan lebat kembali mengurung

 

Satu malam di habiskan dalam gazebo

Iringan jangkrik dan tiupan hobo

Teman pulas seperti dinyanyikan ninabobo

Meringkuk kedinginan dengan badan jumbo

 

Udara gunung membangunkan kami

Ku sambut pagi kembali secara alami

Inginku sekali lagi menyalami

Cinta yang tak sampai ingin ku tanami

 

Tempat ini kujadikan remedial

Terbungkus indah sebagai memorial

Tetesan rindu dasar  esensial

Mental dan material yang potensial

Sisi Kehidupan Mahasiswa

UP: Mahasiswa Tingkat Akhir

Kampus dan kosan sangat berbanding lurus dengan absensi kehadiran kita, tahu gak sih ternyata itu adalah skema jaman dulu, kalau jaman sekarang justru beda semakin dekat jarak kosan ke kampus semakin lama tuh orang muncul.
Masuk jam 8 pagi tapi baru bangun, WA-an sama temennya “bro, udah ada dosen blum?”
terus temennya bales “belum, tenang aja”, amankan.
Jam 8.30, wa lagi “bro, dosenya belum masuk?”
Temennya bales “enggak. Cuma absen doang bro”
Dari sebrang nyaut “yaudah tibsen ya”

Posisi memang menentukan prestasi kalau duduk di depan memang dari segi skill otaknya udah di asah, tapi kalau duduk di belakang shoft skilnya yang di asah. Duduk badan tegak lirik-lirik dikit kaya lagi Tari Pendet tanpa harus membudar badannya.

Paling kesel itu sama dosen jarang masuk, sekalinya masuk langsung kuis. Kan bikin gondok. Kalau dosennya jarang masuk nilai bagus, nah itu idaman gua dah tuh. Nyesek banget itu kalau ngerjain tugas ampe semalaman deadline besoknya tapi gak di periksa bahkan gak dikasih nilai sama sekali. Ditambah tugas banyak dari dosen bersamaan Ujian Bidang Studi rasanya tuh kaya Son Goku mau keluarin jurus Kamehameha.

Hidup bareng orang tua enak banget, bisa kuliah tanpa harus pikirin mau makan apa, gak mesti bayar uang kosan juga beda banget sama anak kosan. Anak kosan identik dengan ‘ngegembel’ nah disini gua mau kasih tahu level anak kosan gak semuanya gembel, lah ini gua? Dari awal bulan juga gembel. Kalau awal bulan anak kos suka bertingkah bebas mau beli makanan apa aja, dimana aja yaialah punya duit, giliran kalau akhir bulan pasang tampang melas perginya ke warteg.
“Bu, makannya ini, ini, sama ini” gua nunjuknya nasi, nasi, sama kuah rendang. Ibu wartegnya ngerti ditambahin sambel dikit katanya sih biar tahan “dipedesin sama si dia”.

Bicara soal kosan di Jakarta ukuran standart kosan murah itu kurang lebih 3×4 meter. Sempit. Iyalah murah. Kalah itu juga sama kuburan orang Tiongkok kelas VVIP di Karawang ada lapangan golf nya lagi.

Komunitas yang terkenal di kampus gua itu mapala, mapala itu ngapain sih? Mapala itu naik gunung, cinta sama alam biar di bilang keren aja. Yang paling males itu dengernya adalah gombalan anak mapala kek gini: “alam aja aku jaga apalagi kamu” alahhhh prett.

Setiap fakultas masing-masing mahasiswanya beda cara berfashion, nah gua mau kasih contoh kecil fashion mahasiswa berdasarkan fakultas:
Fakultas teknik : biasa penampilannya cuek, acak-acakan, dan yang terpenting dia selalu bawa tabung, bukan tabung LPG tapi tabung gambar.
Fakultas seni : rambut gondrong biar dikata ala-ala seniman, kadang pake baju unik- unik juga
Fakultas hukum : biasanya dandannya necis perlente gitu
Fakultas komunikasi : pakaiannya gaul banget,
Fakultas ekonomi : kadang suka make barang-barang branded, bagi mereka kualitas itu penting.
Fakultas sastra : biasanya campur-campur dandanannya, dan yang jelas mereka jago bikin prosa dari yang bikin meleh sampe jleb
Fakultas kesehatan : biasanya so hygiene secara mereka harus menjaga kebersihan diri dari ujung kuku sampe ujung rambut

Di kampus ada gelar-gelar khusus kaya mahasiwa abadi atau mahasiswa lagend, itu apa coba maksudnya?. Mahasiswa abadi gelar paling tinggi di kampus gua hanya karena kekejaman skripsi gua belum berhasil meraih mimpi memegang ijasah dan pake toga. Mahasiswa Abadi dikenal dari angkatan tua sampai maba, sebagai juru kunci, sebagai saksi sejarah, dan terpenting adalah sebagai penyumbang donatur tetap di kampus.

Jadi flashback jaman dulu, tahun pertama: masih gua culun, dandanan masih rapih dan lagi semangat-semangatnya belajar, tahun kedua: biasanya pengen aktif di organisasi, tahun ketiga: pengen terkenal di organisasi minimal aktif di situ, tahun keempat: mulai mikirin skripsi dan mulai menikmati status mahasiswa abadi. Ini yang paling horror.

Ciri-ciri mahasiswa semester akhir : muka kucel karena suka insomnia, rambut gondrong dan pakaian seadanya , mata sayu kebanyakan begadang, tetap senyum walau ditanya “kakak semester berapa?”, tiba-tiba rajin ke perpus, emosi labil, galau nunggu chat dosen dan putus asa, pacaran bisa terganggu. Kalau kalian melihat mahasiswa memiliki cirri-ciri tersebut, maklumkanlah mereka.

Chat dosen:
M : selamat pagi pak, saya ingin bimbinga skripsi, baiknya jam berapa yaa pak? Terimakasih.
D : jam 09.00 ke ruangan saya.
M : baik pak.
Esoknya,
M : selamat pagi pak saya sudah di ruangan bapak.
D : saya lagi rapat di luar, besok saja bimbingannya.
M : besok tanggal merah pak.

Saat bimbingan skripsi dosen itu sok sibuk dari yang chat WA lama bales, hape gak aktif, di kampus tiba-tiba hilang pokoknya gua susah banget temuin dosen pembimbing, temen seangkatan gua sudah bimbingan bab 1 sedangkan gua belum sama sekali ketemu dosen pembimbing. Kenapa dosen itu ada disaat tidak dibutuhkn dan gak ada saat dibutuhkan. Hmm masih menjadi misteri.

Dalam mendapatkan tanda tangan dosen pembimbing untuk segera sidang skripsi tidak mudah. Kita mahasiswa tingkat akhir harus kudu berjuang untuk mendapatkan tulisan penelitian yang membuat dosen pembimbing puas.

Membuat skripsi tak semudah membuat kopi. Bedanya, skripsi bisa di “kopi” tapi kalo kopi gak bisa di “skripsi”-in. tapi, mereka sama-sama bisa di beli. Lol. Menurut gua mau kuliah negeri atau swasta itu gak penting karena di dunia kerja yang bakal di tanya adalah siapa orang dalemnya. Hahaha.

Sukabumi si Raja “Curug”

Kawasan yang memiliki lanskap alam menawan dan udara sejuk membuat siapapun ingin menetap berlama-lama karena dengan kekayaan alam yang berlimpah dan sangat menggoda untuk dijelajahi. Mudah dijangkau dari berbagai kota-kota besar, memiliki jarak tempuh sekitar kurang lebih 6 jam dari Jakarta dengan sarana infrastruktur yang semakin baik. Kali ini Backpacker Jakarta telah mengadakan eksplore Teluk Ciletuh sudah 7 kali dengan cepe terkeceh kita @wira.depe dan @suciandria siap membawa kami menjelajahi keindahan baru di Ciletuh Geopark untuk dieksplorasi bersama dan sudah di akui keindahan alaminya oleh UNESCO.

Dengan membayar sharecost Rp. 299.178 bagi member BPJ dan Rp. 309.178 untuk non BPJ selama 2 hari 1 malam cukup untuk mengantar kami keliling Teluk Ciletuh, biaya tersebut sudah termasuk homestay di rumah warga sekitar. Kami berangkat jumat pukul jam 11 malam dengan menggunakan 2 elf dan tiba di Puncak Darma pukul 5 pagi. Sayangnya karena cuaca tidak kondusif kami tidak dapat menyebrang ke Pulau Kunti dan Pulau Batu Batik.

Geopark Ciletuh terletak di ujung selatan Jawa Barat Kec. Ciemas dan Desa Ciwaru Kab. Sukabumi , menawarkan pesona yang lengkap seperti pesona perbukitan, panorama pantai, keindahan curug dan gradasi bebatuan sedimen yang memanjakan mata.

Puncak Darma

Dari Puncak Darma petualangan backpacker Ciletuh part7 dimulai, pagi ini disambut dengan awan kelabu diiringi rintikan air jatuh ke permukaan bumi memicu aroma khasnya timbul. Meski sang fajar tampak malu-malu menunjukan sinarnya pagi ini begitu manis meliihat indahnya Teluk Ciletuh dari Puncak Darma. Sejuknya udara pagi sambil melihat sekeliling bukit-bukit ditumbuhi rumbut hijau segar layaknya padang savana. Bila cuaca sedang bersahabat kita dapat melihat milkyway pukul 2 dini hari dan sunrise dari puncak bukit.

IMG20180317060216

IMG_20180320_143127_939

Curug Cimarinjung

Adalah curug pertama yang kami kunjungi, memiliki tinggi sekitar 100 meter diatas permukaan laut. Debit air lumayan deras dari aliran air sungai Cimarinjung hingga bermuara ke Teluk Ciletuh di Samudra Hindia. Disekitar air terjun ini banyak bebatuan besar dan licin, penjaga disini cukup sigap memantau pengunjung yang nekat menaiki batu-batu ditengah. Di tempat inipun tidak disarankan untuk berenang khawatir akan tertimpa batuan dari atas ataupun terluka dari kerikil-kerikil tajam disekitarnya.

IMG_20180320_143127_940

Dengan menikmati eksotiknya air terjun dari curug Cimarinjung membuat siapapun pengunjung berdecak kagum inidahnya ciptaan Sang Khalik.

DSC09940

Curug Sodong

Curug Sodong atau dapat disebut air terjun kembar merupakan curug yang terdekat dari lokasi memilki keringgian sekitar 20 meter dari atas curahan air cukup tangguh sehingga dari jarak dekat 10 meter akan terkena hembusan airnya. Dari depan memiliki ciri tebing batu yang kokoh bagian tengah membentuk batu yang besar sehingga membelah air terjun menjadi dua, di bawahnya terdapat banyak batu-batuan kali berukuran kecil sampai sedang dan ditumbuhi pohon rindang mengelilingi curug ini.

DSC09981

Pantai Palampang& Sunset di Batu Karang

Menjelang sore beralih ke pantai Palampang, bersamaan dengan trip Backpacker Jakarta banyak kami jumpai club touring berlalu lalang lengkap dengan atribut club mereka.

Senja menyapa kami dengan hangatnya, deburan ombak kecil membasahi kaki seakan berkata “jangan pergi”. Pesona langit jngga memerah berpadu awan biru gelap seolah menunjukan karya indah Sang Pencipta. Angin semeliwir membawa gelombang ombak kecil tak lupa mengabadikan momen kebersamaan kami. Lalu perlahan senja menghilang degan damai, suara jangkrik bersautan pertanda makan malam sudah siap menunggu kedatangan kami di homestay.

IMG-20180317-WA0116

Batu Karang

Pesolek alam lainya terjadi Batu Karang, berdekatan dengan Pantai Palampang disinilah kami menikmati indahnya senja kala itu. Deburan ombak yang tenang dan deretan karang-karang yang eksotik memberikan pemandangan yang indah tak terlupakan.

IMG_20180320_143127_933

Bukit Panenjoan

Di hari kedua kami mengawali pagi pukul 3 dini hari untuk berangkat ke Bukit Panenjoan dengan tujuan melihat milkyway yang memiliki tinggi sekitar 250 mdpl. For your information, milkyway adalah pengamatan galaksi Bimasakti penuh warna serta bertaburan diantara bintang-bintang. Untuk dapat melihat Bimasakti memerlukan kondisi sekitar gelap gulita bahkan cahaya bulan pun dapat mengganggu hal ini dapat dilihat di pegunungan, bukit, padang gurun, dan pantai. Waktu terbaik untuk mengamati tengah malam hingga menjelang subuh dengan masa waktu antara bulan maret hingga oktober setiap tahunnya.

Di bukit ini menawarkan bentuk mega amfiteater alam dari hamparan sawah dan perkampungan warga. Tempat ini cukup populer di Geopark Ciletuh karena lokasinya berhadapan dengan kantor PAPSI( Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) dimana digunakan sebagai media informasi mengenai pengembangan kawasan Ciletuh Geopark yang sering dikunjungi oleh mahasiswa pencinta alam bahkan peneliti, selain mudah di akses sarana dan prasarana juga mendukung.

DSC00135

20180318_064733

Curug Awang

Curug Awang adalah Ikon nya teluk ciletuh yang merupakan “Niagara-nya” Sukabumi memiliki ketinggian 40 meter dan tinggi 60 meter dengan keindahan tebing yang berdiri kokoh berwarna coklat kemerahan di tambah batu-batuan besar di bawahnya membuat curug ini masih natural.

Curug ini bagus dinikmati pada saat musim penghujan karena debit air cukup deras sehingga seluruh panjang tebing terisi penuh dengan air dan tampak seperti Air Terjun Niagara. Tapi sayangnya pengunjung tidak dapat berada sampai di sisi pinggir tebing khawatir akan terseret arus sampai ke bawah. Hal itu dapat dilakukan hanya pada saat surut saja atau musim kemarau, pengunjung dapat sampai di sisi pinggir tebing.

DSC00198

Curug Cikanteh

Masih satu lokasi dengan Curug Sodong yakni di Cikemas, Sukabumi, memiliki curug 3 tingkatan adalah Curug Cikanteh, Curug Ngelai dan Curug Sodong. Karena di hari pertama trip kami cuaca tidak mendukung sehingga tidak dapat menjelajahi ketiga curug ini hanya Curug Sodong yang dapat kami nikmati karena lokasinya yang paling dekat. Esoknya,terik mentari menemani kami melihat keindahan Curug Cikanteh cukup tracking 10 menit saja sudah dapat menjelajahi curug tertinggi ini. Sepanjang track memiliki jalan yang sempit namun mudah untuk dijangkau, disekeliling ditumbuhi pohon-pohon yang rindang di tambah batu-batuaan kecil sebagai penapak untuk menyebrang sungai. Tampak deburan ombak yang keras dan batuan yang lebih besar, disini pengunjung dapat sekedar bermain air atau hanya mengabadikan keindahan alamnya saja.

DSCtaqi

Menikmati keindahan alam Ciletuh Geopark dijamin akan membuat kagum dengan panorama disana. Rela bergegas pukul 3 dini hari demi melihat mentari yang malu-malu meyapa kami. Sunrise selalu menjadi daya tarik tersendiri, keindahan sunrise napak pada siluet bulat sang surya dan gradasi warna langit jingga dan biru dengan perpaduan awan samudera. Mentari yang memiliki janji yang pasti yaitu untuk memberikan kehangatan apa yang kita butuhan.

Kehangatan sampai senja tiba membuat siapapun mendekap dan menatap pesona lebih lama kemudian merindukanmu dan seperti aku menyukaimu. Indahmu selalu kunantikan dalam ingatanku. Siapa yang tidak menyukai sunset? Siapa yang tidak menyukai senja? Sama seperti sunrise memiliki siluet, surya yang bulat merah jingga dan awan biru gelap. Sayangya sang surya tidak pernah permisi kapan ia harus pergi, ketenangan ombak dan terbenamnya surya akan mebuatt mata terpana layaknya romansa asmara.

Inginku berlama-lama disini, bersama dengan teman backpacker trip Ciletuh Geopark #7 trip sesi baru, teman baru dan pengalaman baru. Merindukan canda dan tawa bersama mereka, rindu mendengar cerita-cerita mereka, menikmati “cilok” khas Sukabumi, dan tak ketinggalan sampai di homestay menyantap hidangan bersama hingga antri menunggu giliran kamar mandi.

photo by: @wira.depe , @han_han1808 , @acakadut , @a.fahri.a , @tengkuadhiet

Novtalia.

Mahasiswa Anti Wacana

“Ayo tentukan mau observasi dimana?” Seru dari Pak Dosen.
Suasana menjadi riuh ketika Pak Dosen menyebutkan tempat yang dituju. “Bagaimana kalau Wonosobo?”
“Ide yang bagus Pak.” Suara muncul dari mahasiswa duduk di belakang. Entah siapa.
“Bolehlah” seruku.
“Mari kita diskusikan, siapa saja yang mau jadi panitianya, terlebih bendahara yang harus sigap” saran dari Pak Dosen.
Sontak dengan sukarela aku bersedia menjadi panitia kegiatan observasi ini dan di bantu dengan bendahara kelas tentunya. Fika. Yang terkenal sapaan “Batakers” tak heran dengan logat bataknya cocok menjadi bendahara selalu mengingatkan teman sejawat tak lupa mengisi uang kas.

Dua bulan adalah waktu kami manfaatkan untuk mempersiapkan kegiatan observasi dan tiap minggunya aku selalu update berita terbaru mengenai pemasukan saldo, itinerary, harga bus, konsumsi, objek wisata yang akan disinggahi dan surat-surat perizinan kegiatan observasi. Sejauh ini masih dalam berjalan dengan baik , kami terus antusias membicarakan perkembangan baik di suasana kelas bahkan obrolan grup.

Menjelang dua minggu sebelum hari yang ditentukan, masalah muncul dari internal kampus kami. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak boleh goyah, semua sudah di persiapkan dengan matang. Bagaimana dengan “DP” bus-nya?. Ohh tidak terbayangkan.

“Nah, dari masalah ini bagaimana pendapat kalian?” tanyaku saat berdiskusi di depan kelas.
“Tetap dilaksanakan saja lagipula sudah di planning tak mungkinkan dibubarkan begitu saja. Uang yang terkumpul sudah banyak dan kita sudah DP bus masa iya kita bubarkan.” Kata Apri. Suatu pendapat yang membuatku tersenyum lebar dan memantapkan rasa percaya diri ku kembali muncul.
“Jika kita tetap lanjut, kita harus siap menghadapi resikonya. Apapun yang terjadi kita harus saling back up”. Saran Yuki.
Tiba saatnya kami berangkat menggunakan mini bus yang telah kami booking, sayangnya jadwal kami seperti jam karet. Jalanan Jakarta tampak di penuhi oleh kendaraan roda empat dan roda dua berlalu-lalang tiada hentinya seakan malam ini adalah malam yang panjang.

Terik sang mentari menyapa kami saat tiba di Temanggung, jadwal telah berubah karena kepadatan kendaranan yang menuju ke luar kota. Menjelang sore langit berwarna putih kelabu tak lama mulai muncul rintik-rintik hujan.
“Yah hujan. Gak jadi observasi nih” sesal Dian.
“Jadi ko. Tunggu saja sebentar lagi juga reda” Pak Dosen mencoba menenangkan.
Pak Dosen seperti pawang hujan, tak lama hujan pun reda. Segera kami bersiap menuju tempat observasi di Temanggung yakni Embung Kledung dan Puncak Posong.

“Ayo mana kelompok perairan, pertanian,  tumbuhan,  hewan silahkan di inventori? ” kata Pak Dosen sambil berjalan membimbing kami. Kemudian membentuk kelompok yang sudah dibagikan minggu lalu. Menyebar ke area sekitar Embung Kledung.

Di Embung Kledung tampak wadah tampungan air yang besar digunakan sebagai penampungan dikala musim hujan dan sebagai cadangan air untuk perkebunan, berletak menghadap ke sisi Gunung Sumbing dan sisi Sindoro serta di tumbuhi tumbuhan hijau dan perkebunan sekitarnya. Sedangkan di Puncak Posong memiliki jalanan yang sempit dan terjal namun menawarkan pemandangan yang indah berbukit-bukit dipenuhi perkebunan warga, dan tumbuhan tembakau hingga berlatarbelakang Gunung Sindoro.

Esoknya, di pagi yang masih gelap dan hembusan angin yang menusukan dada membuat rahang mengeras dan mulut tak dapat mengatup sempurna, gulita ini seakan ayampun masih tertidur pulas di tumpukan jeraminya. Embun yang menempel di kaca bus kami tampak menunjukan udara di luar sana sangat dingin.

Tibalah sampai di Desa Sembungan, Wonosobo. Desa ini dikenal desa tertinggi di pulau Jawa dan coba bayangkanlah betapa dinginnya udara pagi di tempat ini. Rumah penduduk, Telaga Cebong dan lahan pertaniaan masih di selimuti kabut tipis yang segar seakan mengajak kami segera bergegas menuju bukit kecil namun indah bila di lihat dari puncak bukit.

Setapak demi setapak berjuang melewati bersama dinginnya udara dan embun mencapai puncak yang dikenal dengan julukan “The Golden Sunrise” di Bukit Sikunir 2.263 mdpl tapi sayang sang fajar rasanya tampak malu menyapa kami. Tak apa. Karya ini cukup indah untuk dinikmati di musim penghujan. Kelak di lain waktu mungkin kita dapat bertegur sapa di bukit yang memiliki ciri khas langit jingganya yang fenomenal.

Beranjak menuju kawasan Dieng yakni Candi Arjuna. Adalah suatu tempat pergelaran budaya Dieng Festival Culture selalu ramai setiap tahunnya biasa di selenggarakan di bulan Agustus. Banguanan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno ini menyajikan pesona perbukitan yang eksotik memanjakan mata berdecak kagum akan keindahan sekitar candi. Dilihat dari susunan relief Candi Arjuna merupakan tempat pemujaan Dewa Syiwa atau yang di kenal dengan nama “Trimurti” dewa teragung dalam agama Hindu.

Selesai sudah observasi dan wisata kami. Pemandangan disajikan begitu indah dan mempesona, Wonosobo juga tempat yang aku rindukan. Hamparan bukit nan hijau di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing seolah menyegarkan jiwaku di tengah hiruk pikuk ibu kota. Suara gemercik aliran air yang jernih seolah memasukan memori yang indah dalam pikiranku.

“Sepertinya alam sedang berpihak pada kami. Terimakasih untuk kebersamaan ini” syukurku dalam hati.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: