Pengorbanan Guru Pelosok

1526219175577

Mengabdi ke pelosok negeri

Mengarungi alam pesona bahari

Kami siap untuk mengajari

Walau bangun dini hari

 

Perjalanan jauh dari pusat kota

Infrastruktur hanya andaikata

Walau sudah menjadi buah berita

Tapi menimba ilmu saja menderita?

 

Terluar, terdepan dan tertinggal

Walau tinggal dari pohon cengal

Atau sifat mereka yang bengal

Bukan berarti mereka telah gagal

 

Cerita tentang sekolah rubuh

Sampan mengayuh pakaian lusuh

Jalan terjal tetap ditempuh

Dimanakah hati yang luluh?

 

‘Capek’ sudah lama mereka lupakan

Jarak yang jauh mereka hiraukan

Demi ilmu yang mereka perjuangkan

Pengorbanan mereka tak terbayangkan

 

Surya terik menembus lubang atap

Panas, berkeringat dan pengap

Tatap masa depan dengan penuh harap

Ku jalani ini dengan bertahap

 

Sering kali aku berfikir

Mengajar merasai pahit getir

Dalam hati aku mengukir

Sambil berdoa air mata mengalir

 

Persoalan pendidikan kurang berkualitas

Fasilitas tak pantas

Aktivitas belajar sangat terbatas

Pengajar dituntut untuk loyalitas

 

Ambisi memajukan pendidikan

Masa depan mereka perlu dipertimbangkan

Meski tinggal diperbatasan

Kebodohan harus diberantaskan

 

Maju bersama mencerdaskan Indonesia

Bukan pengapdian sia-sia

Memberantas kaum akatalepsia dan aleksia

Semua butuh pengadaptasia

 

Merekapun pantas mendapat edukasi

Walau wilayah mereka kian terisolasi

Negara harus mengevaluasi

Agar kemajuan bangsa teratasi

 

Menggantungkan harapan dan cita

Semangat mereka adalah sukaria

Nasionalisme adalah kriteria

Guru merupakan profesi mulia

Iklan

Skripsi gak susah, Jalanin saja

PicsArt_05-06-08.23.46

“Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana”

Begitulah bunyi sangat amat berfaedah dari sebuah kata “skripsi” terletak di laman cover depan bukunya. Bagi sebagian mahasiswa skripsi adalah momok yang menakutkan karena gelar ‘mahasiswa abadi’ bisa saja selalu menghantui setiap mahasiswa. Tapi kita gak akan bahas kearah sana, mari kita bahas prosesnya saja. Perlahan namun pasti kaya dapetin hati si dia.

Tema skripsiku tentang ‘anggrek’ namun hanya pembahasan inventori saja dan lokasinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Kenapa anggrek, entah kenapa itu adalah ide pertama yang muncul dan kenapa mesti di TNGHS ? kenapa gak di Pesona Anggrek TMII? Atau di Kebun Raya Bogor? Jawabannya karena mau sambil jalan-jalan, hehe. Giliran dosen pembimbing sudah suruh penelitian bingung mau ajak siapa? naik apa? di tambah dengan perjalanan cukup jauh, kondisi medan dari Citalahab-Cikaniki kerikil dan bebatuan, siapa yang mau?

Misi Pertama
Sambil berpikir santai di sebuah cafe dekat rumah dengan seruput kopi hitam dan french fries mencari temen di daerah Bogor, nah iya dapet satu. Andri. Kenal Andri itu karena pernah nanjak bareng ke Gunung Salak lewat jalur Pasir Reungit, berawal kenal dari temen dan kebetuan dia juga ikut naik gunung, jadi kita kenal di gunung deh.

“Ndri, tahu tempat penangkaran anggrek di kaki Gunung Salak gak? Atau lo tahu daerah Citorek/ Lebaktugu/ Cinakem/ Cibedug/ Ciawitali? ” tanyaku antusias lewat Whats App.

“Kalo yang lo maksud gua gak tau Ris, tapi ada penangkaran anggrek di Pondok Bitung daerah Citiis yang kemarin kita naik grab kelewatan tempatnya” balas Andri sekaligus mendapat informasi tambahan.

Flashback sebelum nanjak ke Gunung Salak, sambil mikir keras tempat yang dia maksud karena sepanjang perjalanan ke Pasir Reungit kayanya tidur mulu jadi berasa cepet aja sampainya.

“Lupa Ndri” sambil cengengesan bales whats app padahal dia mana tau ekspresi mukaku lagi ngapain.

“Lo mau beli anggrek?” tanya Andri

“Enggak gua mau liat penangkaran anggrek aja buat skripsi gua Ndri. Libur kapan libur?” jelasku sekalian basa-basi.

“Minggu Ris” jawab dari seberang

“Temenin gua yuk Ndri”

Singkat cerita, akhirnya Andri mau temenin bersama temen sekantor Andri, Pak Suad ke tempat penangkaran anggrek di daerah Ciomas. Kira-kira butuh 30 menit buat sampai ke kediaman Pak Suad dari Stasiun Bogor. Dulu masa kejayaannya zaman Soeharto, di perkebunan beliau banyak penangkaran atau budidaya anggrek, peternakan sapi, dan ada villanya juga.

Menempuh perjalanan motor selama 30 menit sampai ke Ciomas and you know that, sampai disana penangkaran anggrek udah berubah jadi hutan, oh my God. Hanya tinggal peternakan sapi yang tinggal beberapa terlihat sapi-sapinya, dan villa tampak tua di lihat dari kejauhan lumut yang menjamur kearah tembok.
Seketika mukaku langsung memerah nampak kecewa yang tadinya berangkat dengan antusias tiba-tiba berubah seketika. Berangkat dengan penuh harap membahawa bahan untuk dijadikan skripsi tapi malah zonk. Misi di Ciomas gagal.

“Jadi gimana nih Ris? Mau cari anggrek dimana?” tanya Andri

“Hmm dimana yaa?” sambil mikir
Lalu aku bertanya ke Pak Suad “Disini gak ada kebun anggrek lagi Pak? Dimana aja asal ada tumbuhan anggrek liarnya?”

“Aduh saya kurang tau neng, yang saya tau cuma ini doang” jelas Pak Badrun

“Kebun Raya Bogor aja Ris, Kayanya sih ada anggrek?” ajak Andri

“Boleh deh Ndri” sambil melanjutkan perjalanan aku berfikir ‘berarti aku harus berganti judul dong karena lokasinya udah beda yang harusnya di sekitar gunung Salak lah ini malah di Kebun Raya Bogor’ aduh repot lagi urusanya sama dosen pembimbing dan dosen prodi. Biarin deh gak punya pilihan lagi.

Lalu aku melanjutkan perjalanaan menuju ke Kebun Raya Bogor kebetulan searah dengan jalan pulang ke Stasiun Bogor. Butuh 30 menit untuk sampai kesana karena jalanan Bogor padat diramaikan oleh angkot-angkot. Sampai disana aku menghampiri bagian informasinya, hari itu sudah jam 4 sore kayanya hampir jam terakhir mereka kerja deh.

“Permisi Mbak, saya ingin melalukan penelitian tentang anggrek. Bagaimana prosedurnya ya?” tanyaku sambil permisi.
“Bawa surat pengantar kampus aja Mbak” jelas dari Mbak bagian informasi.

“Butuh proses berapa lama Mbak?” tanyaku lagi.

“Gak sampai seminggu mungkin 4 hari. Nanti datangnya sebelum jam 4 yah Mbak karena office-nya tutup jam 4.15 kalau Kebun Rayanya jam 5 sore” lanjutnya.

“Baiklah. Terimakasih Mbak” sambil permisi.

“Sama-sama” tutupnya dengan ramah
Sambil berjalan kearah pulang Andri tanya “Yaudah Ris mau kemana lagi?”
“Udah Ndri, kita cobain kuliner bogor aja. Sayangkan udah main jauh-jauh kesini gak cicipin kulinernya”

“Yaudah sok atuh” ajak Andri
Akhirnya sebelum pulang kami icip-icip kuliner disana dan akhirnya pulang ke stasiun ke Jakarta. Misi di Kebun Raya Bogor hanya berbuah informasi saja.

Misi Kedua
Aku coba lagi buat mencari siapa temen yang bisa diajak ngebolang, dengan menggunakan jurus ‘sok akrab’ ke temen instagram, temen naik gunung, ampe bikin instastory. Ada sih beberapa temen japri tetapi mereka menyangka bahwa aku ingin nanjak Gunung Salak padahal mah makasih deh, aku sudah pernah dan untuk nanjak kedua kalinya harus mikir ekstra berpangkat dulu.

Ringkot. Temen nanjak gunung dulu pernah bareng waktu ke Merbabu jalur Selo tanpa pikir panjang langsung aku ajak ke TNGHS. Dia sih ok aja, nah ini kesempatan banget tapi di samping itu juga aku masih mau usaha buat cari barengan siapa tau dia mendadak cancel. Sembari cari temen di kontak handphone, cari..cari..cari.. akhirnya dapet Mbak Maya. Dia anak touring, doyang ngebolang kemana-mana pake Moge alias motor gede gitu. Dulu pernah sekantor bareng tapi sekarang masing-masing sudah memilih jalur yang berbeda but we always keep contact.

“Mbak May pernah touring kearah Gunung Salak?” tanyaku basa-basi.

“Pernah tapi hanya lewat Cidahu aja” jawab Mbak May.

“Jalanannya hancur kah?” basa-basi kedua.

“Udah lama banget kesana terakhir sih hancur” jelasnya.

“Gua butuh orang yang bisa diajak kesana nih masalahnya susah banget ngelobi-nya. Gua kesana cuma mau observasi aja tentang anggrek buat skripsi gua nanti ke arah Leuwiliang kesanaan lagi” basa-basi ketiga.

“ Leuwiliang arah Jasinga ya? Kalo mau di antar hayuk.” Seketika mataku berbinar mendengar ucapan dari Mbak Maya.

“Nah yang kaya gini nih yang jarang-jarang” mencoba mengungkapkan.

“Maksudnya ris?” tanya Mbak May heran.

“Jarang-jarang ada yang tau inti dari percakapan gua” terkadang to the point itu jauh lebih baik.

IMG20180407152800

Foto di Kebun Teh Nirmala, Citalahab

Singkat cerita, akhirnya kita janjian hari Sabtu pagi berangkat dan ketemuan di Naga Swalayan di Ciracas, Jalan Raya Bogor. Ladies rider satu ini selalu membawa motor gedenya kemanapun walau jarak yang cukup jauh, yaialah anak touring. Kami jalan kearah Bogor melewati Leuwiliang arah jalur ke kampus IPB lanjut ke arah kecamatan Nanggung sampai ujung Desa Curug Bitung lalu masuk ke Desa Wisata Malasari (Kampung Wisata Halimun Ciwalen) di lanjutkan kembali sepanjanjang perjalanan menusuri Kebun Teh Nirmala Agung masuk ke Kampung Citalahab memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan kondisi jalan bekas cor jalan tidak rata sepanjang 1 km, di lanjutkan kondisi jalan kerikil pasir dan tanah, dan sampai kondisi jalan bebatuan yang tertanam. Waktu tempuh dari Jakarta sampai Cikaniki kurang lebih 6 jam itu juga termasuk kendala di jalan karena gir motor tidak mampu diteruskan melanjutkan perjalanan akhirya sekitar 1,5-2 jam mengalami perbaikan motor. Sungguh perjalanan yang amat sangat melelahkan di tambah lagi dengan kondisi bebatuan di Cikaniki total sudah tiga kali terjatuh dari motor dan entah beraapa kali tergelincir disebabkan kondisi jalan licin dan batu-batuan yang tajam, beruntung kami tidak mengalami luka yang serius.

IMG20180407163656

Cikaniki Reasearch Station

Sampailah juga di lokasi observasi, sayangnya disana terdapat anggrek tetapi tidak berbunga. Tadinya mau jalan ke arah hutan tapi karena hari semakin gelap dan cuaca hujan ringan, kami mengurung niat itu. Beruntung sekali dengan guide kami Bapak Apud kami diberikan gambaran sedikit mengenai anggrek hutan di kaki gunung Salak, salah satunya adalah anggrek yang bernama latin Bulbophyllum paduii dengan habitatnya di batang pohon. Bunga yang memiliki ciri khas kelopak runcing dan memanjang dengan warna yang cerah seperti ungu, kemerahan, dan kuning. Anggrek ini jarang sekali temui di perkotaan mungkin karena hanya dapat tumbuh di daerah sejuk dengan daerah yang lembab.

IMG-20180401-WA0007

Bulbophyllum paduii

Akhirnya aku dapat anggrek liar sebagai bahan skripsi tapi entah kenapa kurang puas ya, karena di saat observasi belum sempet wawancara pengunjung disana atau guide lainnya. Pak Apud ingin mengajak lagi datang ke tempat ini tapi entah kenapa waktunya belum ketemu karena bersamaan dengan waktu kerja dan entah siapa lagi yang harus aku ajak. Dan aku memutuskan untuk mengerjakan skripsi dengan bahan yang sudah ada masalah wawancara masih ada waktu. Semoga untuk observasi selanjutnya dapat dipermudahkan.

Bersambung….

Novtalia

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: