Warisan Leluhur Dari Suku Kanekes

IMG20180217132717Patung Selamat Datang Suku Kanekes (Suku Baduy)

Apa yang menjadi pemikiran kalian jika mendengar suku Kanekes atau biasa disebut suku Baduy? Suatu kelompok kehidupan yang jauh dari kata  modernisasi, hidup bersama alam di tengah hutan dan dibawah aturan adat yang ketat atau bahkan sebagian dari kalian beranggapan orang-orang yang menyeramkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suku Baduy merupakan sekelompok etnis Sunda yang hidupnya tergantung pada alam terletak  di sekitar Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Menurut kepercayaan suku Kanekes, masyarakat disana memiliki tugas untuk menjaga keharmonisan atau keseimbangan alam setempat hal ini disebut juga kepercayaan yang memuja nenek moyang sebagai bentuk rasa penghormatan mereka. Kepercayaan ini disebut  dengan Sunda Wiwitan. Suatu budaya yang tidak dapat dipisahkan oleh masyarakat setempat untuk  menjaga kelestarian alam sampai mampu membangun hubungan dengan alam.

Suku Baduy di bagi 2 kelompok yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Perbedaannya adalah cukup sederhana dilihat dari segi pakaian dengan warna berbeda dan menjalankan aturan adat istiadat setempat. Masyarakat di Baduy Dalam sangat memegang teguh dan menjalankan aturan adat dari Puun yakni, tidak menggunakan alat teknologi sama sekali bahkan pencahayaaan di waktu malam datang dan bahan kimia pada kehidupan sehari-hari. Pakaian untuk keseharian  yang biasa digunakan memiliki ciri balutan kain dominan warna putih yang mempunyai makna kesucian, tetapi terkadang celananya saja yang berwarna hitam ataupun biru tua. Sedangkan perbedaan dari kelompok Baduy Luar, masyarakat disana telah terkontaminasi dengan budaya luar atau pengunjung datang untuk berwisata sehingga penggunaan bahan kimia sudah boleh diperkenankan dan bahkan penggunaan elektronik. Selain itu, dalam menggunakan pakaian sehari-hari serba hitam atau warna biru tua. Masyarakat Baduy Luar sendiri memiliki fungsi sebagai penyaring masuknya budaya luar untuk dapat mengenal suku Baduy Dalam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mata pencaharian utama suku Baduy  adalah bertani karena dengan diperkaya alam yang berlimpah dan tanah yang subur membuat keseharian mereka untuk bercocok tanam. Biasanya komoditas yang dihasilkan berupa umbi-umbian, buah-buahan, kopi sehingga tidak sulit untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari, selain itu mereka menanam padi ladang tetapi tidak boleh di jual.

Mungkin sebagian dari kalian ada yang bertanya mengapa padi disana tidak boleh dijual? Hukum adat  melarang mereka menjual hasil panen padi ladang karena agar masyarakat tidak kesusahan pada masa sulit datang. Uniknya suku Baduy terus mempertahankan kemandirian pangan dengan cara bercocok taman padi ladang yang dilakukan setiap setahun sekali dengan masa panen enam bulan.

Produksi pangan disana terbilang berkecukupan karena sebagian gabah mereka disimpan di lumbung pangan (rumah leuit).Penyimpanan gabah itu untuk mempertahankan ketahanan pangan bagi warganya tanpa bahan pengawet.

sized_IMG_9762

Mengenai pembangunan rumah adat,  terbuat dari kayu dan bambu harus melihat dari segi kelestarian alam. Ketika struktur tanah yang miring tidak boleh digali atau diratakan demi menjaga alam yang telah memberi mereka kehidupan. Lalu bagaimana teknik membangun rumah? nah,cara mengakalinya dengan cara membuat kayu yang lebih panjang dan pendek agar rumah panggung tetap datar hingga siap dihuni.  Bagian atap terbuat dari serat ijuk atau daun kelapa digunakan sebagai pelindung dari terik matahari dan hujan, dan semua lantai di lapisi anyaman bambu.

Rumah adat dibagi tiga ruangan yaitu bagian depan, ruang tengah dan ruang bagian belakang. Bagian depan biasa digunakan untuk penerima tamu dan tempat menenun bagi kaum perempuan, ruang rengah digunakan untuk berkumpul keluarga dan tempat beristirahat dan ruang belakang digunakan untuk dapur dan tempat menyimpan hasil panen lainnya. Arah rumah suku Baduy sendiri menghadap utara dan selatan saja hal ini dimaksud agar banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan.

PANO_20180218_091902

Bagi pengunjung yang ingin datang ke suku Baduy Luar sangat mudah dan terjangkau, bisa juga mengunjungi Baduy Dalam tetapi waktu tempuh cukup jauh sekitar 3 jam dari Baduy Luar dan di Baduy dalam pengunjung tidak diperbolehkan menginap khawatir akan mempengaruhi warga setempat. Range  harga Rp.150.000-250.000 tegantung dari meeting poin dimana Kalian dapat menggunakan transportasi  Computer Line arah Rangkas Bitung. Selanjutnya dari terminal Rangkas Bitung menggunakan mobil elf arah Ciboleger. Penting untuk diketahui batas Elf menuju ke Ciboleger, Ciboleger- Rangkas Bitung sampe jam satu siang, kecuali kalau kalian bisa memesan sewa elf menuju kesana bebas akan mengantar kalian sesuai waktu yang ditentukan. Harga tiket masuk Baduy Luar cukup mengeluarkan uang seiklasnya karena tidak dipatok harga jaadi saya menbayar sebesar Rp. 30.000.

Sama halnya dengan penginapan dan guide maupun jasa porter mereka juga tidak mematok harga khusus. Untuk penginapan biasanya Rp.200.000-300.000, guide berkisar Rp. 100.000, sedangkan jasa porter (angkut barang) sebesar Rp.25.000.

Untuk makan biasanya sudah disediakan oleh penginapan tetapi dengan lauk seadanya yang dimana hasil pertanian mereka, seperti nasi, ikan asin, tahu, tempe, sambel, sayur hingga buah yang disuguhkan saat panen contohnya duku, manggis, hingga durian. Biaya yang dikeluarkan berkisar Rp. 15.000/orang.

Sedikit ulasan dari suku Baduy, tertarik mengunjungi suku Baduy?

 

 

Iklan

Mencoba Kegiatan Rappelling Dengan Menuruni Tebing Dengan Tali

IMG20171203105522.jpgTeknik Rappelling

Pernahkah kamu mencoba olahraga rappelling? Jenis olahraga yaitu dengan  teknik meluncur kebawah menggunakan tali tambang  cukup memicu keberanian dirimu. Dalam olahraga jenis ini pastinya  menggunakan alat standar keamanan seperti tali karmantel. harness, helm, carabiner, figure 8 dan juga alat keselamatan lainya.

Bagaimana aturan dalam olahraga rappelling? Pertama, dengan memposisikan diri condong seperti gerakan kuda-kuda, tangan kiri memegang tali bagian depan dan  tangan kanan memegang tali  bagian belakang sebelah pinggang, tangan kanan berguna sebagai alat kemudi. Diusahakan mengurangi benturan antara badan dengan tebing dan juga gesekan badan dengan tali. Kedua, lakukan menuruni tebing dengan cara lompat perlahan, posisi kaki tetap lurus ketika melompat dan tangan kanan harus sigap karena sebagai kendali. Tak lupa selalu melakukan pengamatan  dan memperhatikan lintasan tali yang ada sampai ke ujung bawah. Saran gunakanlah  pakaian yang tidak mengganggu saat rappelling.

 

IMG20171203143246Lembah Pelangi

DSCN9441

Berada di Desa Cimanggu 1, Kampung Jatake, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang menyediakan lokasi rappeling. Terdapat tiga curug di lokasi ini tetapi yang paling diminati adalah Lembah Pelangi. Tinggi curug ini sekitar 20 meter dengan kemiringan 750 maka dari itu cukup cocok untuk pemula yang ingin mencoba rappelling. Berapa harga kegiatan ini? dengan membayar Rp. 70.000 pengunjung dapat  merasakan sensasi rappelling ini, dan tahukah kamu pemandu juga tidak membatasi berapa kali kita ingin mencoba.

Untuk mencapai lokasi ini agak sedikit rumit yaitu dengan  menaiki angkutan transportasi umum jurusan Leuwiliang sampai di Kecamatan Ciampea selanjutnya turun di daerah Leuweung Kolot, dari situ menaiki angkutan lagi  sampai melewati Gardu Seri kemudian dilanjutkan kembali  berjalan kaki sekitar 1 km agar sampe curug.

Kami peserta Backpacker Jakarta berangkat kesana dengan jumlah cukup banyak yaitu sekitar 40 orang dengan meeting poin di Stasiun Bogor. Sekitar jam 08:00 WIB kami berangkat dari Stasiun Bogor dengan menyewa angkutan umum sebanyak 4 mobil, waktu di tempuh kurang lebih 1,5- 2  jam untuk sampai curug.

IMG20171203113643Curug Jatake

Memiliki ketinggian sekitar 60 meter dijadikan sebagai curug utama sayangnya terdapat banyak sampah plastik yang tersangkut di bebatuan membuat curug ini tampak kumuh. Debit aliran air cukup deras dan warna air cukup keruh kecoklatan sehingga lokasi ini hanya bisa dinikmati dari jauh saja dan tidak dijadikan lokasi rappelling.

Masih ada lokasi curug satu lagi dekat Lembah Pelangi, memiliki tertinggian sekitar 25 meter dan kemiringan 900. Curug tersebut juga hanya bisa dinikmati saja dan tidak cocok untuk kegiatan rappelling karena kemiringannya yang curam.

Fasilitas disini juga cukup lengkap namun sederhana, terdapat parkiran luas, warung, gazebo, toilet/ tempat bilas, dan  musolah.

Nah, itu dia sedikit explore Kampung Jatake yang memiliki tiga curug sekaligus di Kawasan Bogor. Tertarik mengunjungi lokasi tersebut? ingin mencoba olahraga rappelling? Sekedar saran jika ingin datang kesana dengan angkutan umum rajin-rajin menanyakan arah jalan biar gak kesasar dan datanglah dengan jumlah cukup banyak agar patungannya lebih murah, hihihi. Selamat mencoba gaes.

Gagal Capai Puncak Sumbing

IMG20170326055712

Puisiku

Panggilan Gunung Sumbing berdering

Setapak demi setapak saling beriring

Menyenangkan berjalan sambil sharing

Menjaga stamina sangatlah penting

 

Satu tekat menggapai puncak

Tag lokasi tak terlacak

Guyonan teman membuat kocak

Sambil menari Tari Kecak

 

Mulai melangkah dari jalur Garung

Meski makin cepat detak jantung

Beban keril akan tetap ku tanggung

Sejenak menarik nafas dan bersenandung

 

Pos satu bernama Malim

Jauh dekat seperti antonim

Prepare untuk perubahan iklim

Asal tidak celana denim

 

Tiga jam sampai Gatakan

Jalan terjal cukup mengajarkan

Memantapkan langkah setiap pijakan

Semangat kawan sebagai bujukan

 

Garung lama dan baru bertemu Pestan

Tiga puluh menit waktu pembulatan

Langkah semakin cekatan

Seperti tak sabar menunggu perhelatan

 

Jalan ekstrim menuju Watu Kotak

Pijakan batu bergejolak buat gertak

Dari sini Sindoro memancarkan kontak

Panorama terjadi sontak

 

Kecuraman memperkenalkan Puncak Buntu

Merapi, Merbabu dan Lawu nampak bersekutu

Mustahil sampai sini tanpa pangestu

Cuaca juga faktor penentu

 

Pos tiga tempat kami bersantai

Kawan bangun tenda kian pandai

Santapan telah selesai

Semoga malam ini cepat usai

 

Pagi ini terasa mengganjal

Paha betis terasa pegal

Headlamp ditenda kutanggalkan

Tumpuan  selalu gagal

 

Ketika langit mulai kelabu

Rintikan membasah daun semambu

Teriakan angin limbubu

Ku rindu sentuhan kalbu

 

Awan negatif  tubruk membahana

Halilintar datang tanpa terencana

Dalam tenda seperti karantina

Urungku keluar hanya darsana

 

Acap kali gunung jumpa badai

Angin rebut pandai berpiawai

Daun rontok cerai-berai

Porandakan tenda goyangan barongsai

 

Malapetaka bagi setiap pendaki

Ganasnya petir buat teka teki

Keangkuhan siap mencaci-maki

Siapa yang dapat melunaki?

 

Fajar datang sehangat kasih ibu

Menuruni gunung dengan langkah seribu

Pulang dengan cerita menggebu-gebu

Tinggal di kota penuh debu

 

Waktu berjalan semakin limit

Selamat tinggal pertanda pamit

Rasa meninggalkan jadi rumit

Seperti negara api meluncurkan dinamit

 

Sampai di basecamp diam termenung

Menunggu bus AKAP langsung

Namun bus terakhir kembali urung

Hujan lebat kembali mengurung

 

Satu malam di habiskan dalam gazebo

Iringan jangkrik dan tiupan hobo

Teman pulas seperti dinyanyikan ninabobo

Meringkuk kedinginan dengan badan jumbo

 

Udara gunung membangunkan kami

Ku sambut pagi kembali secara alami

Inginku sekali lagi menyalami

Cinta yang tak sampai ingin ku tanami

 

Tempat ini kujadikan remedial

Terbungkus indah sebagai memorial

Tetesan rindu dasar  esensial

Mental dan material yang potensial

Sisi Kehidupan Mahasiswa

UP: Mahasiswa Tingkat Akhir

Kampus dan kosan sangat berbanding lurus dengan absensi kehadiran kita, tahu gak sih ternyata itu adalah skema jaman dulu, kalau jaman sekarang justru beda semakin dekat jarak kosan ke kampus semakin lama tuh orang muncul.
Masuk jam 8 pagi tapi baru bangun, WA-an sama temennya “bro, udah ada dosen blum?”
terus temennya bales “belum, tenang aja”, amankan.
Jam 8.30, wa lagi “bro, dosenya belum masuk?”
Temennya bales “enggak. Cuma absen doang bro”
Dari sebrang nyaut “yaudah tibsen ya”

Posisi memang menentukan prestasi kalau duduk di depan memang dari segi skill otaknya udah di asah, tapi kalau duduk di belakang shoft skilnya yang di asah. Duduk badan tegak lirik-lirik dikit kaya lagi Tari Pendet tanpa harus membudar badannya.

Paling kesel itu sama dosen jarang masuk, sekalinya masuk langsung kuis. Kan bikin gondok. Kalau dosennya jarang masuk nilai bagus, nah itu idaman gua dah tuh. Nyesek banget itu kalau ngerjain tugas ampe semalaman deadline besoknya tapi gak di periksa bahkan gak dikasih nilai sama sekali. Ditambah tugas banyak dari dosen bersamaan Ujian Bidang Studi rasanya tuh kaya Son Goku mau keluarin jurus Kamehameha.

Hidup bareng orang tua enak banget, bisa kuliah tanpa harus pikirin mau makan apa, gak mesti bayar uang kosan juga beda banget sama anak kosan. Anak kosan identik dengan ‘ngegembel’ nah disini gua mau kasih tahu level anak kosan gak semuanya gembel, lah ini gua? Dari awal bulan juga gembel. Kalau awal bulan anak kos suka bertingkah bebas mau beli makanan apa aja, dimana aja yaialah punya duit, giliran kalau akhir bulan pasang tampang melas perginya ke warteg.
“Bu, makannya ini, ini, sama ini” gua nunjuknya nasi, nasi, sama kuah rendang. Ibu wartegnya ngerti ditambahin sambel dikit katanya sih biar tahan “dipedesin sama si dia”.

Bicara soal kosan di Jakarta ukuran standart kosan murah itu kurang lebih 3×4 meter. Sempit. Iyalah murah. Kalah itu juga sama kuburan orang Tiongkok kelas VVIP di Karawang ada lapangan golf nya lagi.

Komunitas yang terkenal di kampus gua itu mapala, mapala itu ngapain sih? Mapala itu naik gunung, cinta sama alam biar di bilang keren aja. Yang paling males itu dengernya adalah gombalan anak mapala kek gini: “alam aja aku jaga apalagi kamu” alahhhh prett.

Setiap fakultas masing-masing mahasiswanya beda cara berfashion, nah gua mau kasih contoh kecil fashion mahasiswa berdasarkan fakultas:
Fakultas teknik : biasa penampilannya cuek, acak-acakan, dan yang terpenting dia selalu bawa tabung, bukan tabung LPG tapi tabung gambar.
Fakultas seni : rambut gondrong biar dikata ala-ala seniman, kadang pake baju unik- unik juga
Fakultas hukum : biasanya dandannya necis perlente gitu
Fakultas komunikasi : pakaiannya gaul banget,
Fakultas ekonomi : kadang suka make barang-barang branded, bagi mereka kualitas itu penting.
Fakultas sastra : biasanya campur-campur dandanannya, dan yang jelas mereka jago bikin prosa dari yang bikin meleh sampe jleb
Fakultas kesehatan : biasanya so hygiene secara mereka harus menjaga kebersihan diri dari ujung kuku sampe ujung rambut

Di kampus ada gelar-gelar khusus kaya mahasiwa abadi atau mahasiswa lagend, itu apa coba maksudnya?. Mahasiswa abadi gelar paling tinggi di kampus gua hanya karena kekejaman skripsi gua belum berhasil meraih mimpi memegang ijasah dan pake toga. Mahasiswa Abadi dikenal dari angkatan tua sampai maba, sebagai juru kunci, sebagai saksi sejarah, dan terpenting adalah sebagai penyumbang donatur tetap di kampus.

Jadi flashback jaman dulu, tahun pertama: masih gua culun, dandanan masih rapih dan lagi semangat-semangatnya belajar, tahun kedua: biasanya pengen aktif di organisasi, tahun ketiga: pengen terkenal di organisasi minimal aktif di situ, tahun keempat: mulai mikirin skripsi dan mulai menikmati status mahasiswa abadi. Ini yang paling horror.

Ciri-ciri mahasiswa semester akhir : muka kucel karena suka insomnia, rambut gondrong dan pakaian seadanya , mata sayu kebanyakan begadang, tetap senyum walau ditanya “kakak semester berapa?”, tiba-tiba rajin ke perpus, emosi labil, galau nunggu chat dosen dan putus asa, pacaran bisa terganggu. Kalau kalian melihat mahasiswa memiliki cirri-ciri tersebut, maklumkanlah mereka.

Chat dosen:
M : selamat pagi pak, saya ingin bimbinga skripsi, baiknya jam berapa yaa pak? Terimakasih.
D : jam 09.00 ke ruangan saya.
M : baik pak.
Esoknya,
M : selamat pagi pak saya sudah di ruangan bapak.
D : saya lagi rapat di luar, besok saja bimbingannya.
M : besok tanggal merah pak.

Saat bimbingan skripsi dosen itu sok sibuk dari yang chat WA lama bales, hape gak aktif, di kampus tiba-tiba hilang pokoknya gua susah banget temuin dosen pembimbing, temen seangkatan gua sudah bimbingan bab 1 sedangkan gua belum sama sekali ketemu dosen pembimbing. Kenapa dosen itu ada disaat tidak dibutuhkn dan gak ada saat dibutuhkan. Hmm masih menjadi misteri.

Dalam mendapatkan tanda tangan dosen pembimbing untuk segera sidang skripsi tidak mudah. Kita mahasiswa tingkat akhir harus kudu berjuang untuk mendapatkan tulisan penelitian yang membuat dosen pembimbing puas.

Membuat skripsi tak semudah membuat kopi. Bedanya, skripsi bisa di “kopi” tapi kalo kopi gak bisa di “skripsi”-in. tapi, mereka sama-sama bisa di beli. Lol. Menurut gua mau kuliah negeri atau swasta itu gak penting karena di dunia kerja yang bakal di tanya adalah siapa orang dalemnya. Hahaha.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: