Sukabumi si Raja “Curug”

Kawasan yang memiliki lanskap alam menawan dan udara sejuk membuat siapapun ingin menetap berlama-lama karena dengan kekayaan alam yang berlimpah dan sangat menggoda untuk dijelajahi. Mudah dijangkau dari berbagai kota-kota besar, memiliki jarak tempuh sekitar kurang lebih 6 jam dari Jakarta dengan sarana infrastruktur yang semakin baik. Kali ini Backpacker Jakarta telah mengadakan eksplore Teluk Ciletuh sudah 7 kali dengan cepe terkeceh kita @wira.depe dan @suciandria siap membawa kami menjelajahi keindahan baru di Ciletuh Geopark untuk dieksplorasi bersama dan sudah di akui keindahan alaminya oleh UNESCO.

Dengan membayar sharecost Rp. 299.178 bagi member BPJ dan Rp. 309.178 untuk non BPJ selama 2 hari 1 malam cukup untuk mengantar kami keliling Teluk Ciletuh, biaya tersebut sudah termasuk homestay di rumah warga sekitar. Kami berangkat jumat pukul jam 11 malam dengan menggunakan 2 elf dan tiba di Puncak Darma pukul 5 pagi. Sayangnya karena cuaca tidak kondusif kami tidak dapat menyebrang ke Pulau Kunti dan Pulau Batu Batik.

Geopark Ciletuh terletak di ujung selatan Jawa Barat Kec. Ciemas dan Desa Ciwaru Kab. Sukabumi , menawarkan pesona yang lengkap seperti pesona perbukitan, panorama pantai, keindahan curug dan gradasi bebatuan sedimen yang memanjakan mata.

Puncak Darma

Dari Puncak Darma petualangan backpacker Ciletuh part7 dimulai, pagi ini disambut dengan awan kelabu diiringi rintikan air jatuh ke permukaan bumi memicu aroma khasnya timbul. Meski sang fajar tampak malu-malu menunjukan sinarnya pagi ini begitu manis meliihat indahnya Teluk Ciletuh dari Puncak Darma. Sejuknya udara pagi sambil melihat sekeliling bukit-bukit ditumbuhi rumbut hijau segar layaknya padang savana. Bila cuaca sedang bersahabat kita dapat melihat milkyway pukul 2 dini hari dan sunrise dari puncak bukit.

IMG20180317060216

IMG_20180320_143127_939

Curug Cimarinjung

Adalah curug pertama yang kami kunjungi, memiliki tinggi sekitar 100 meter diatas permukaan laut. Debit air lumayan deras dari aliran air sungai Cimarinjung hingga bermuara ke Teluk Ciletuh di Samudra Hindia. Disekitar air terjun ini banyak bebatuan besar dan licin, penjaga disini cukup sigap memantau pengunjung yang nekat menaiki batu-batu ditengah. Di tempat inipun tidak disarankan untuk berenang khawatir akan tertimpa batuan dari atas ataupun terluka dari kerikil-kerikil tajam disekitarnya.

IMG_20180320_143127_940

Dengan menikmati eksotiknya air terjun dari curug Cimarinjung membuat siapapun pengunjung berdecak kagum inidahnya ciptaan Sang Khalik.

DSC09940

Curug Sodong

Curug Sodong atau dapat disebut air terjun kembar merupakan curug yang terdekat dari lokasi memilki keringgian sekitar 20 meter dari atas curahan air cukup tangguh sehingga dari jarak dekat 10 meter akan terkena hembusan airnya. Dari depan memiliki ciri tebing batu yang kokoh bagian tengah membentuk batu yang besar sehingga membelah air terjun menjadi dua, di bawahnya terdapat banyak batu-batuan kali berukuran kecil sampai sedang dan ditumbuhi pohon rindang mengelilingi curug ini.

DSC09981

Pantai Palampang& Sunset di Batu Karang

Menjelang sore beralih ke pantai Palampang, bersamaan dengan trip Backpacker Jakarta banyak kami jumpai club touring berlalu lalang lengkap dengan atribut club mereka.

Senja menyapa kami dengan hangatnya, deburan ombak kecil membasahi kaki seakan berkata “jangan pergi”. Pesona langit jngga memerah berpadu awan biru gelap seolah menunjukan karya indah Sang Pencipta. Angin semeliwir membawa gelombang ombak kecil tak lupa mengabadikan momen kebersamaan kami. Lalu perlahan senja menghilang degan damai, suara jangkrik bersautan pertanda makan malam sudah siap menunggu kedatangan kami di homestay.

IMG-20180317-WA0116

Batu Karang

Pesolek alam lainya terjadi Batu Karang, berdekatan dengan Pantai Palampang disinilah kami menikmati indahnya senja kala itu. Deburan ombak yang tenang dan deretan karang-karang yang eksotik memberikan pemandangan yang indah tak terlupakan.

IMG_20180320_143127_933

Bukit Panenjoan

Di hari kedua kami mengawali pagi pukul 3 dini hari untuk berangkat ke Bukit Panenjoan dengan tujuan melihat milkyway yang memiliki tinggi sekitar 250 mdpl. For your information, milkyway adalah pengamatan galaksi Bimasakti penuh warna serta bertaburan diantara bintang-bintang. Untuk dapat melihat Bimasakti memerlukan kondisi sekitar gelap gulita bahkan cahaya bulan pun dapat mengganggu hal ini dapat dilihat di pegunungan, bukit, padang gurun, dan pantai. Waktu terbaik untuk mengamati tengah malam hingga menjelang subuh dengan masa waktu antara bulan maret hingga oktober setiap tahunnya.

Di bukit ini menawarkan bentuk mega amfiteater alam dari hamparan sawah dan perkampungan warga. Tempat ini cukup populer di Geopark Ciletuh karena lokasinya berhadapan dengan kantor PAPSI( Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) dimana digunakan sebagai media informasi mengenai pengembangan kawasan Ciletuh Geopark yang sering dikunjungi oleh mahasiswa pencinta alam bahkan peneliti, selain mudah di akses sarana dan prasarana juga mendukung.

DSC00135

20180318_064733

Curug Awang

Curug Awang adalah Ikon nya teluk ciletuh yang merupakan “Niagara-nya” Sukabumi memiliki ketinggian 40 meter dan tinggi 60 meter dengan keindahan tebing yang berdiri kokoh berwarna coklat kemerahan di tambah batu-batuan besar di bawahnya membuat curug ini masih natural.

Curug ini bagus dinikmati pada saat musim penghujan karena debit air cukup deras sehingga seluruh panjang tebing terisi penuh dengan air dan tampak seperti Air Terjun Niagara. Tapi sayangnya pengunjung tidak dapat berada sampai di sisi pinggir tebing khawatir akan terseret arus sampai ke bawah. Hal itu dapat dilakukan hanya pada saat surut saja atau musim kemarau, pengunjung dapat sampai di sisi pinggir tebing.

DSC00198

Curug Cikanteh

Masih satu lokasi dengan Curug Sodong yakni di Cikemas, Sukabumi, memiliki curug 3 tingkatan adalah Curug Cikanteh, Curug Ngelai dan Curug Sodong. Karena di hari pertama trip kami cuaca tidak mendukung sehingga tidak dapat menjelajahi ketiga curug ini hanya Curug Sodong yang dapat kami nikmati karena lokasinya yang paling dekat. Esoknya,terik mentari menemani kami melihat keindahan Curug Cikanteh cukup tracking 10 menit saja sudah dapat menjelajahi curug tertinggi ini. Sepanjang track memiliki jalan yang sempit namun mudah untuk dijangkau, disekeliling ditumbuhi pohon-pohon yang rindang di tambah batu-batuaan kecil sebagai penapak untuk menyebrang sungai. Tampak deburan ombak yang keras dan batuan yang lebih besar, disini pengunjung dapat sekedar bermain air atau hanya mengabadikan keindahan alamnya saja.

DSCtaqi

Menikmati keindahan alam Ciletuh Geopark dijamin akan membuat kagum dengan panorama disana. Rela bergegas pukul 3 dini hari demi melihat mentari yang malu-malu meyapa kami. Sunrise selalu menjadi daya tarik tersendiri, keindahan sunrise napak pada siluet bulat sang surya dan gradasi warna langit jingga dan biru dengan perpaduan awan samudera. Mentari yang memiliki janji yang pasti yaitu untuk memberikan kehangatan apa yang kita butuhan.

Kehangatan sampai senja tiba membuat siapapun mendekap dan menatap pesona lebih lama kemudian merindukanmu dan seperti aku menyukaimu. Indahmu selalu kunantikan dalam ingatanku. Siapa yang tidak menyukai sunset? Siapa yang tidak menyukai senja? Sama seperti sunrise memiliki siluet, surya yang bulat merah jingga dan awan biru gelap. Sayangya sang surya tidak pernah permisi kapan ia harus pergi, ketenangan ombak dan terbenamnya surya akan mebuatt mata terpana layaknya romansa asmara.

Inginku berlama-lama disini, bersama dengan teman backpacker trip Ciletuh Geopark #7 trip sesi baru, teman baru dan pengalaman baru. Merindukan canda dan tawa bersama mereka, rindu mendengar cerita-cerita mereka, menikmati “cilok” khas Sukabumi, dan tak ketinggalan sampai di homestay menyantap hidangan bersama hingga antri menunggu giliran kamar mandi.

photo by: @wira.depe , @han_han1808 , @acakadut , @a.fahri.a , @tengkuadhiet

Novtalia.

Iklan

Mahasiswa Anti Wacana

“Ayo tentukan mau observasi dimana?” Seru dari Pak Dosen.
Suasana menjadi riuh ketika Pak Dosen menyebutkan tempat yang dituju. “Bagaimana kalau Wonosobo?”
“Ide yang bagus Pak.” Suara muncul dari mahasiswa duduk di belakang. Entah siapa.
“Bolehlah” seruku.
“Mari kita diskusikan, siapa saja yang mau jadi panitianya, terlebih bendahara yang harus sigap” saran dari Pak Dosen.
Sontak dengan sukarela aku bersedia menjadi panitia kegiatan observasi ini dan di bantu dengan bendahara kelas tentunya. Fika. Yang terkenal sapaan “Batakers” tak heran dengan logat bataknya cocok menjadi bendahara selalu mengingatkan teman sejawat tak lupa mengisi uang kas.

Dua bulan adalah waktu kami manfaatkan untuk mempersiapkan kegiatan observasi dan tiap minggunya aku selalu update berita terbaru mengenai pemasukan saldo, itinerary, harga bus, konsumsi, objek wisata yang akan disinggahi dan surat-surat perizinan kegiatan observasi. Sejauh ini masih dalam berjalan dengan baik , kami terus antusias membicarakan perkembangan baik di suasana kelas bahkan obrolan grup.

Menjelang dua minggu sebelum hari yang ditentukan, masalah muncul dari internal kampus kami. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak boleh goyah, semua sudah di persiapkan dengan matang. Bagaimana dengan “DP” bus-nya?. Ohh tidak terbayangkan.

“Nah, dari masalah ini bagaimana pendapat kalian?” tanyaku saat berdiskusi di depan kelas.
“Tetap dilaksanakan saja lagipula sudah di planning tak mungkinkan dibubarkan begitu saja. Uang yang terkumpul sudah banyak dan kita sudah DP bus masa iya kita bubarkan.” Kata Apri. Suatu pendapat yang membuatku tersenyum lebar dan memantapkan rasa percaya diri ku kembali muncul.
“Jika kita tetap lanjut, kita harus siap menghadapi resikonya. Apapun yang terjadi kita harus saling back up”. Saran Yuki.
Tiba saatnya kami berangkat menggunakan mini bus yang telah kami booking, sayangnya jadwal kami seperti jam karet. Jalanan Jakarta tampak di penuhi oleh kendaraan roda empat dan roda dua berlalu-lalang tiada hentinya seakan malam ini adalah malam yang panjang.

Terik sang mentari menyapa kami saat tiba di Temanggung, jadwal telah berubah karena kepadatan kendaranan yang menuju ke luar kota. Menjelang sore langit berwarna putih kelabu tak lama mulai muncul rintik-rintik hujan.
“Yah hujan. Gak jadi observasi nih” sesal Dian.
“Jadi ko. Tunggu saja sebentar lagi juga reda” Pak Dosen mencoba menenangkan.
Pak Dosen seperti pawang hujan, tak lama hujan pun reda. Segera kami bersiap menuju tempat observasi di Temanggung yakni Embung Kledung dan Puncak Posong.

“Ayo mana kelompok perairan, pertanian,  tumbuhan,  hewan silahkan di inventori? ” kata Pak Dosen sambil berjalan membimbing kami. Kemudian membentuk kelompok yang sudah dibagikan minggu lalu. Menyebar ke area sekitar Embung Kledung.

Di Embung Kledung tampak wadah tampungan air yang besar digunakan sebagai penampungan dikala musim hujan dan sebagai cadangan air untuk perkebunan, berletak menghadap ke sisi Gunung Sumbing dan sisi Sindoro serta di tumbuhi tumbuhan hijau dan perkebunan sekitarnya. Sedangkan di Puncak Posong memiliki jalanan yang sempit dan terjal namun menawarkan pemandangan yang indah berbukit-bukit dipenuhi perkebunan warga, dan tumbuhan tembakau hingga berlatarbelakang Gunung Sindoro.

Esoknya, di pagi yang masih gelap dan hembusan angin yang menusukan dada membuat rahang mengeras dan mulut tak dapat mengatup sempurna, gulita ini seakan ayampun masih tertidur pulas di tumpukan jeraminya. Embun yang menempel di kaca bus kami tampak menunjukan udara di luar sana sangat dingin.

Tibalah sampai di Desa Sembungan, Wonosobo. Desa ini dikenal desa tertinggi di pulau Jawa dan coba bayangkanlah betapa dinginnya udara pagi di tempat ini. Rumah penduduk, Telaga Cebong dan lahan pertaniaan masih di selimuti kabut tipis yang segar seakan mengajak kami segera bergegas menuju bukit kecil namun indah bila di lihat dari puncak bukit.

Setapak demi setapak berjuang melewati bersama dinginnya udara dan embun mencapai puncak yang dikenal dengan julukan “The Golden Sunrise” di Bukit Sikunir 2.263 mdpl tapi sayang sang fajar rasanya tampak malu menyapa kami. Tak apa. Karya ini cukup indah untuk dinikmati di musim penghujan. Kelak di lain waktu mungkin kita dapat bertegur sapa di bukit yang memiliki ciri khas langit jingganya yang fenomenal.

Beranjak menuju kawasan Dieng yakni Candi Arjuna. Adalah suatu tempat pergelaran budaya Dieng Festival Culture selalu ramai setiap tahunnya biasa di selenggarakan di bulan Agustus. Banguanan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno ini menyajikan pesona perbukitan yang eksotik memanjakan mata berdecak kagum akan keindahan sekitar candi. Dilihat dari susunan relief Candi Arjuna merupakan tempat pemujaan Dewa Syiwa atau yang di kenal dengan nama “Trimurti” dewa teragung dalam agama Hindu.

Selesai sudah observasi dan wisata kami. Pemandangan disajikan begitu indah dan mempesona, Wonosobo juga tempat yang aku rindukan. Hamparan bukit nan hijau di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing seolah menyegarkan jiwaku di tengah hiruk pikuk ibu kota. Suara gemercik aliran air yang jernih seolah memasukan memori yang indah dalam pikiranku.

“Sepertinya alam sedang berpihak pada kami. Terimakasih untuk kebersamaan ini” syukurku dalam hati.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: